Aku Mau Memilih

Bapaku di bumi,
Mengapa sejak hari itu, jurang antara kita semakin dalam?
Sejak aku memutuskan jalin dengan pria itu
Sejak aku mengurungkan niat untuk menikah dengannya

Engkau begitu berbeda, bapa
Menatap mataku pun tidak
Tegur sapa seolah mati suri
Ucap kata hanya ya dan tidak

Apakah karena engkau kecewa dengan keputusan hidupku?
Apakah engkau kecewa karena harapmu terlalu membubung tinggi?

Aku tahu engkau berkenan atas lelaki itu
Dia peranakan Cina, satu ras dengan kita
Dia adalah anak seorang ‘suci’ yang terpandang
Keluarganya memiliki susu dan madu lebih daripada kita

Maafkan aku karena engkau harus menanggung malu
Malu oleh sebab engkau telah berkoar-koar pada dunia
Malu karena putrimu tak lagi jadi kebanggaanmu
Malu karena putrimu membuat dunia memandang hina padamu


Dua hari lalu engkau bergeram dengan ibu
Engkau muak merasakan polah tingkah anak-anakmu
Membuatmu ingin pergi dari rumah
Tinggal sendiri di daerah selatan

Di matamu…
Si sulung bagai si durhaka yang acap bersitegang denganmu
Si tengah bagai si phobia seks yang aneh dan memalukan
Si bungsu bagai si binal yang gemar bermasyuk dengan penis-penis


Oh bapa,
Tidak tahukah engkau bahwa sejak lama putra tunggalmu ingin membunuhmu karena di matanya, engkau adalah figur ayah yang tidak bertanggung jawab pada keluarga
Tidak tahukah engkau bahwa aku ingin merajam hatimu, karena teramat banyak luka batin yang kau torehkan di hatiku
Tidak tahukah engkau bahwa putri bungsumu begitu ingin minggat dari rumah karena kepicikanmu menghancurkan kepolosannya dalam memandang seorang bapa

Selama ini kami memilih diam, oleh sebab ibu
Ibu yang mengukir loh hati anak-anaknya untuk takut kepada Tuhan
Ibu yang menancap pasak di hati anak-anaknya untuk hormat pada bapa
Ibu itu istrimu yang tetap tunduk walau pahit empedu engkau dulang padanya


Bapa oh bapa
Dalam diamku, mengapa kian hari seolah engkau kian membenciku?
Cemoohmu di belakangku terlebih menyakitkan
Merembet kemana-mana

Jinjing laptopku kau cemooh
Tentu saja bapa, karena aku hanya tukang cukur
Babu rambut yang tak berotak
Padahal laptop hanya untuk kaum berotak, bukan?

Apa lagi bapa?
Apa lagi yang kau sembunyikan di belakangku,
di balik tubuh gembrot dan gemulai kemalasanmu?
Mulutmu manis di depan orang, tetapi penuh bisa dan sengat terhadap keluarga

Bapa…
Sekali lagi engkau telah menorehkan luka batin pada hatiku
Sungguh, aku ingin membalasnya
Aku ingin engkau merasakan sakit yang beribu kali lebih sakit dari sakitku

Aku bisa saja memilih untuk menjadi si sadis
Merajam, mencacah-cacah, dan melumat habis hatimu
Merobek-robek dadamu
Menebas jantungmu dan memakannya mentah-mentah


Tetapi Iblis tak berkuasa atasku
Kasih Bapa kita yang di Sorga
Menyembuhkan lukaku
Melembutkan hatiku
Memenuhiku dengan Kasih Sejati hingga aku mau memilih untuk mengasihimu

Bapaku di bumi, Bapa kita yang di Sorga belum selesai membentukmu
Proses itu memang menyakitkan
Entah untuk berapa lama
Tetapi ketahuilah bapa, segala sesuatu akan indah pada waktuNya

Engkau tetap bapaku
Bapa di bumi yang dipakai Bapa di Sorga untuk menciptakan aku
Aku mau menghormatimu
Aku mau mengasihimu

Aku pernah menjadi anak kesayanganmu
Dan aku akan tetap menjadi anak kesayangan bagimu
Bukan karena aku
Tetapi karena Kasih Bapa kita yang di Sorga

2 komentar:

  1. Dear Shanz, begitu keparat kah bapak mu? sedikitnya kamu masih bisa menahan emosi-mu (dg geram.) my suggest, klo boleh, klo ga pun gpp :
    1. klo memang terancam, cari tempat/tinggal sendiri ga jauh bgt dari rumah skarang, but masih bisa merhatiin ibumu.

    2. jgn timpakan kemarahanmu kepada dunia (luar), masih banyak orang yang bisa shanz ajak ngobrol+ ga smua cowo' tuh brengsek (minimal ada 1 dari 1,5 milyard)

    OK peace!!!

     
  2. Begitu keparatkah bapakku? Ia adalah figur ayah yang kurang bertanggung jawab pada keluarga. Saya masih bisa menahan emosi (ya...dengan geram) karena takut pada Tuhan.

    Tengkiu bgt buat suggest-nya.

    1. Sempat terpikir untuk segera pergi meninggalkan rumah dan membangun kehidupanku sendiri. Hanya saja, ini belum saatnya. Jika Tuhan mengijinkan, maka itulah yang akan terjadi.

    2. Ok, saya cenderung suka menimpakan amarahku pada dunia, untuk mencari pelampiasan hehehehe...

    Benar juga, masih banyak orang yang bisa kuajak ngobrol (mungkin salah satunya kamu) + tidak semua cowok brengsek. Saya juga tidak anti-lelaki.

    Salam damai 'tuk mu...

     

Poskan Komentar