Berakit-rakit ke Hulu, Berenang-renang ke Lesbian

Sahabat lelaki saya punya kebiasaan makan yang unik dan boleh dibilang cukup ekstrim. Ia selalu menyisihkan bagian makanan yang paling enak untuk dimakan paling akhir. Misalnya, mie bakso. Ia akan memakan mie dan kuahnya sampai habis tak bersisa, baru kemudian memakan baksonya. Di lain waktu, ia memesan paket ikan bakar. Ia akan memakan nasi, berikut sambal, tahu goreng dan lalapnya terlebih dahulu. Ikan bakar itu ia diamkan utuh. Setelah nasi dan lauk pauk lain habis, barulah ia makan ikan itu.

Tentu orang ini bukan orang biasa saja sehingga saya mau menceritakannya di blog ini. Orang ini adalah salah satu orang yang spesial di mata saya. Saya mengenalnya ketika awal kuliah dulu, namun persahaban kami baru dimulai sejak April 2006 yang lalu. Persahabatan kami berawal dari ketidaksengajaan yang kemudian berlanjut dengan curhat-curhatan via email.

Saya belum pernah memiliki seseorang seperti ini, yang mau “ada” untuk saya. Ia adalah orang yang mau meluangkan waktunya untuk benar-benar “mendengarkan” saya di saat-saat sulit dalam hidup saya. Ia mau menganalisa permasalahan yang sedang saya hadapi, mengambil benang merahnya, baru kemudian menanggapi saya lengkap dengan uraian analisanya. Ia mampu memahami dan merespon setiap detil urai kalimat bahasa curahan hati saya. Responnya cukup rasional dan objektif, tidak menghakimi, tidak asal menanggapi, dan tidak asal membesarkan hati untuk menyenangkan saya.

Lama-lama, saya curiga bahwa dia menaruh hati pada saya karena ia begitu baik dan perhatian. Bisa dibilang, ia memiliki sense and sensibility yang TOP BGT. Ia begitu peka jika ada sesuatu yang tidak beres dengan diri saya. Saya pun sempat (baca sekali lagi: sempat) menaruh hati padanya karena ia tidak seperti kebanyakan lelaki pada umumnya. Ia mampu membuat saya merasa nyaman dan merasa benar-benar direspon dengan penuh respek.

Nah, setelah beberapa sesi konseling di dunia maya, kami pun sepakat bertemu di dunia nyata. Waktu itu saya pikir dia akan menyatakan rasa sukanya pada saya. Ternyata oh ternyata, segala sesuatunya tidak seperti yang saya bayangkan. Kebersamaan kami sangat garing, hambar, dan tidak semenggairahkan ketika bercurhat ria via email. Topik pembicaraan kami hanya sebatas permukaan, hal-hal yang bersifat umum, dan begitulah, kencan sehari kami berakhir dengan kegaringan yang membuat waktu seolah terbuang percuma. Rasa suka yang sempat ada di hati, langsung hilang begitu saja.

Kesempatan kedua, sama saja. Kebersamaan sepanjang hari hanya menghabiskan waktu dengan percuma. Akhirnya, saya sedikit menjaga jarak dengannya, karena saya tahu bahwa dia menyukai saya, hanya saja ia tidak berani mengungkapkannya. Saya pun berharap agar dia jangan sampai menyatakan rasa sukanya pada saya. Saya sedikit menutup diri agar tidak terkesan memberi harapan kepadanya. Meski demikian, persahabatan kami terus berlanjut. Kami tetap saling memberi kabar, berbagi cerita (yang tidak bersifat personal), dan bertemu muka untuk keperluan hobi dan bisnis.

Tidak terasa, persahabatan kami telah berlangsung selama 2,5 tahun. Selama itu pula, ternyata ia memendam rasa sukanya pada saya. Hal ini saya ketahui setelah melewati sesi panjang curhatnya via SMS beberapa hari yang lalu. Ia akhirnya berani mengakui bahwa ia memang suka pada saya. Selama ini ia memendam untuk mengungkapkannya karena ia tidak mau menyakiti perasaan saya, membuat saya kecewa kalau-kalau ternyata hubungan itu kandas di tengah jalan. Ia tidak berani menyatakan perasaannya karena keadaan menyulitkan dirinya: ia putra tunggal, cucu tertua, serta ibunya memandang agama sehingga ia tidak boleh asal-asalan dalam memilih pasangan hidup.

Selama ini ia terus-menerus mengirimi saya SMS karena ia takut kehilangan saya. Itulah yang membuatnya terkesan suka mengirim SMS untuk hal-hal yang tidak penting. Ia ingin memelihara hubungan persahabatan dengan saya, ingin tetap berkontak dengan saya, dan tidak ingin hubungan baik ini berakhir karena cinta. Ia merasa dirinya kerap ditolak wanita dan hubungan interpersonal pun berakhir begitu saja. Ia tidak ingin hal yang sama terjadi pada saya dan dirinya.

Mendengar pengakuannya, saya salut padanya. Saya katakan bahwa saya sangat menghargainya. Saya senang dengan hubungan persahabatan ini. Hubungan yang membuat saya tidak tersakiti, pun menyakitinya. Saya pun menegaskan niat semula untuk menjadi lajang yang kaya raya, sebagaimana niat yang pernah saya utarakan padanya 2,5 tahun lalu.

Ia menanggapi saya sebagai si pesimis dan menghibur saya bahwa keadaan bisa berubah. Dengan segera saya menanggapinya bahwa saya telah sampai pada keputusan itu, bukan karena pesimisme akan masa depan, melainkan karena optimisme saya akan masa depan. Saya optimis bahwa saya tetap bisa menjalani kehidupan ini dengan utuh walau dengan melajang alias tidak menikah. Saya telah menempuh perjalanan spiritual yang membebaskan jiwa saya dari belenggu ketakutan dan kekhawatiran. Saya bahagia dengan keadaan saya sekarang ini. Dan saya telah mantap dengan keputusan saya.

Rabu lalu kami bertemu. Saya mentraktirnya makan Bakso Malang. Seperti biasa, ia memakan pangsitnya dulu, kemudian tahunya, menghabiskan kuahnya, baru deh puncak kenikmatan diakhiri dengan lahapan bakso. Melihat itu, saya tertawa dan berkata padanya, “Dari dulu lho. Si Om itu kalau makan, mesti yang paling enak dimakan terakhir. Persis kaya orangnya. Sukanya menahan-nahan kesenangan. Menunda pemuasan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.”

Dia pun tersenyum dan menanggapi, “Lha iya. Sama halnya kalau aku dulu nembak kamu. Terus ternyata kamu balik ke keputusan kamu semula untuk jadi lajang yang kaya raya. Apa ndak malah semuanya bubar?” Sambil memakan suapan terakhirnya, ia menambahkan, “Celakanya nih, ini bakso terakhir, udah mau dimakan, eeeh, tiba-tiba nggelinding. Jatuh. Waaa….”

Saya hanya tertawa sambil bergumam dalam hati, “Lha iya Om. Udah ditahan-tahan untuk dinikmati nanti, eee…nggak taunya jatuh menggelinding. Sama halnya dengan kamu. Aku tahu kamu masih suka padaku. Kamu terus menjaga hubungan baik denganku, sambil menaruh harap suatu saat nanti aku akan berubah. Namun pada akhirnya, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan aku… karena kamu berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke lesbian.”

0 komentar:

Poskan Komentar