Cross Stitch
Belum lama ini, sahabat saya menunjukkan kerajinan tangan yang dibuatnya empat tahun lalu, namun belum terselesaikan dengan sempurna. Kerajinan tangan itu berupa sulaman cross stitch dengan figur wanita setengah telanjang berbalut sehelai kain menjuntai ke bawah. Dari kejauhan, figur itu tampak begitu cantik dan anggun. Kata sahabat saya, dia ingin menyelesaikan sulaman itu untuk dipajang di kamarnya. Ia juga mengatakan bahwa ia ingin mengoleksi karya seni eksotis berupa gambar-gambar wanita telanjang. Jika sudah terkumpul banyak, ia akan memajangnya di kamar.
Sahabat saya ini cantik. Pantatnya besar. Bibirnya seksi. Kecantikan ragawi itu makin sempurna dengan sifatnya yang lemah lembut, halus, peka, dan tulus. Kesukaannya adalah membaca buku, berlama-lama di salon dan spa, serta menghabiskan waktu libur untuk berwisata, termasuk wisata kuliner. Ia menghargai perbedaan dan senang berdiskusi tentang kehidupan. Ia begitu dewasa dan sangat perempuan. Ibarat hotel, dia itu bintang lima deh.
Yeah, tentu saja saya tertarik padanya. Mata ini berbinar ketika menatap bola matanya yang teramat cantik dengan kelopak sayu itu. Apalagi ketika ia mulai membicarakan pandangan-pandangannya tentang kehidupan. Pikiran pun melayang-layang ke negeri di awan, membayangkan saya menjalani kehidupan bersamanya. Oh, betapa indahnya…
But suddenly, wuiiiing….Gedebuk…brakks… Auw!! Aduuuh, sakitnya…karena itu semua hanya mimpi. Ia adalah seorang heteroseksual yang sangat heteroseks banget. Dia sudah bersuami dan memiliki seorang putra.
***
Saya bertemu dengan wanita ini empat tahun yang lalu. Pertama kali melihatnya, saya kagum akan kecantikan dan keseksiannya. Saya pikir dia masih kuliah. Namun, alangkah terkejutnya saya saat itu ketika mengetahui bahwa usianya ternyata jauh lebih tua diatas saya dan sudah mempunyai anak berusia dua tahun. Tampaknya ia pandai merawat diri sehingga wajahnya tampak lebih muda dari usianya dan lekuk tubuhnya masih serupa gadis.
Pertemuan kami terus berlanjut dan hubungan persahabatan mulai terjalin. Saya dapat berbagi dengannya dan dia pun mau berbagi dengan saya. Kami saling menaruh kepercayaan hingga kami dapat membangun bisnis bersama walau urusan bisnis itu terkadang menimbulkan konflik diantara kami. Berlawanan dengan prediksi orang lain di sekitar kami, hubungan persahabatan kami tetap dapat terjalin dengan indah seirama dengan hubungan bisnis kami.
Saya banyak belajar dari sahabat saya ini. Dia adalah seorang istri yang setia. Suaminya yang bekerja di luar kota dan pulang (paling banter) hanya sekali dalam dua tahun, tidak membuatnya lantas berselingkuh dengan pria-pria yang tertarik kepadanya. Ya, walau ia mengakui bahwa godaan untuk berselingkuh itu seringkali datang, ia memiliki kendali diri yang luar biasa dengan memegang teguh prinsip kesetiaan dalam dirinya.
Ia meyakini bahwa kesetiaan ini akan berbalik kepadanya. Ia tahu bahwa suaminya mencintai dia dan hanya dia saja, sehingga ia tahu suaminya tidak dapat berhubungan seksual dengan wanita lain. Ia tahu bahwa suaminya rutin melakukan yoga dan meditasi, suka mengasah spiritualisme, dan pekerja keras sehingga nafsu seksual tidak akan berkuasa atas dirinya. Ia tahu bahwa suaminya memiliki keahlian (prana) sehingga ia yakin bahwa suaminya dapat mengetahui apa pun yang dilakukannya.
Ada cerita menarik. Ia pernah bercerita bahwa pada satu malam diantara malam-malam rutin sang suami-istri ini bertelepon, suami berkata kepadanya, “Ma, saya tahu lho, mama pakai baju warna apa.”
“Oh ya, Pa? Apa warnanya, Pa?” (bertanya dengan yakin bahwa tebakan suaminya akan salah)
“Hijau, Ma. Celana dalam Mama, Papa juga tahu lho.”
Terkaget, dan setengah takut berkata, “Apa, Pa?”
“Hitam, Ma. Mama seksi deh pakai celana hitam.”
Dan malam pun berlanjut dalam malam orgasme via sex phone.
Yup…yup…sudah cukup fantasi liarmu. Mari kita lanjutkan perjalanan kita.
Cemooh dan negativisme dari orang-orang di sekitar sahabat saya ini tentu saja terus bergaung dan bergema setiap saat di telinga. Dan itu menyakitkan hatinya. Dalam kesakitan yang memuncak, ia pergi ke Psikiater terkenal di kota ini. Seperti pendapat orang pada umumnya, si Psikiater mendakwa suaminya pasti punya wanita idaman lain di luar sana. Jikalau tidak demikian, maka suaminya pasti menyempatkan diri untuk pulang ke rumah, untuk datang pada silaturahmi di Hari Lebaran, untuk pulang ketika sang istri sedang sakit parah, untuk pulang ketika sang anak sedang sekarat, untuk pulang ke “rumah”. Nyatanya tidak. Sang suami (hampir) tidak pernah pulang.
Rupanya si Psikiater sekaliber itu, tidak mampu menggiring sahabat saya dalam menghadapi permasalahannya. Belakangan, sahabat saya merasa datang ke Psikiater adalah salah satu kebodohan terbesar yang pernah ia lakukan. Katanya, “Udah bayar mahal-mahal. Susah-susah bikin janji. Eee, nggak taunya jawabannya sama aja dengan yang dibilang orang-orang. Tau gitu kan nggak usah ke Psikiater. Wuih, bego tenan.” Sahabat saya tersadar bahwa hanya dialah yang mengenal suaminya, yang tahu persis bagaimana suaminya, maka sepantasnyalah ia percaya pada keyakinan dirinya sendiri.
Selanjutnya, sahabat saya tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Ia tetap bertekun dalam doa. Sholat dan berpuasa. Bahkan ia menjalani puasa vegetarian untuk hal-hal yang ia perjuangkan di hadapan Tuhan. Dan ketekunan itu mulai mendatangkan hasil. Ia mulai diberi hati yang lapang untuk menerima keadaan ini dengan ikhlas. Ia merasa bahwa proses ini berlangsung lama karena ia belum mengikhlaskan semuanya ini. Ia lalu memohon dalam doa-doanya agar diberi keikhlasan atas semua ini. Ia percaya jika ia bisa menerima dengan ikhlas, maka proses ini akan berlangsung lebih cepat.
***
Kembali pada sulam cross stitch. Sahabat saya pernah berjanji untuk memberikan sulaman figur wanita setengah telanjang itu sebagai kado untuk suaminya. Janji itu ia buat ketika mengandung anaknya. Selama mengandung, ia menyulam. Namun, tubuh yang lemah dan sakit-sakitan, membuat sahabat saya tidak dapat meneruskan sulam yang sebenarnya sudah hampir selesai itu. Akhirnya, sulaman itu hanya teronggok dalam pengap kardus-kardus penuh debu.
Empat tahun kemudian. Entah bagaimana detil peristiwanya, sahabat saya “menemukan” sulaman cross stitch itu. Sampai ketika ia menunjukkannya pada saya dan menceritakan sejarah sulaman itu. Hatinya tergerak untuk menyelesaikan sulaman itu. Ia begitu bersemangat sampai-sampai saya jadi kepingin belajar sulam cross stitch (yang tadinya nggak banget deh). Kami pun pergi mencari jarum baru untuk mengganti jarum lama yang telah berkarat.
Ia telah kembali menusukkan jarum dan benang dalam kotak-kotak strimin yang sangat kecil. Membentuk jalinan simpul silang. Kotak demi kotak, untuk disulam menjadi figur wanita nan elok dan anggun yang utuh dalam kesempurnaan cinta. Sempurna karena setia. Sempurna dalam proses empat tahun lamanya. Empat tahun untuk kado terindah dari seorang istri yang bersetia kepada suaminya.
Hmm, akhir bulan ini, jika Tuhan mengijinkan, sahabat saya akan “berbulan madu” dengan suaminya. Suami akan terbang dari Jakarta ke Jogja, menjemput istri dan anaknya, membawa mereka terbang ke Jakarta dan menikmati upah dari kesetiaan yang terbukti tahan uji.


Poskan Komentar