Kebenaran yang Mengubah Hidup Saya (Bagian Empat)
...dan inilah kebenaran yang hakiki itu
#4: Tentang Tuhan dan dosa
Doktrinasi ajaran agama telah membuat saya merasa berdosa atas kecenderungan lesbian ini. Saya takut kepada Tuhan atas penghukuman yang akan dijatuhkanNya kepada saya saat Hari Penghakiman Terakhir. Saya takut bila saya dijebloskan ke dalam lautan api neraka yang penuh dengan ratap dan kertak gigi untuk disiksa selama-lamanya. Saya takut bila saya bernasib tragis seperti penduduk Sodom dan Gomora yang dibinasakan dengan hujan api dan belerang. Intinya, saya merasa bahwa menjadi lesbian itu dosa.
Pada mulanya, saya tidak mau mengaku di hadapan Tuhan bahwa saya memiliki kecenderungan lesbian ini. Dalam doa, saya hanya meminta ampun atas segala dosa dan kesalahan saya. Waktu itu saya masih menyangkal di hadapan Tuhan bahwa saya memiliki kecenderungan lesbian, “Saya nggak lesbi kok,” pikir saya. Saat itu, saya merasa bahwa saya bisa menyembunyikan rahasia ini dari Tuhan.
Ternyata saya salah besar. Bersembunyi dari Tuhan justru membuat saya merasa semakin tersiksa dengan kecenderungan lesbian yang muncul dalam pola datang dan pergi. Saya merasa berputar-putar dalam kegelapan. Saya uring-uringan, mudah marah, super sensitif, dan merasa kesepian yang amat sangat. Dalam keputusasaan dan kefrustrasian, saya akhirnya mengaku dengan jujur di hadapanNya atas keadaan diri saya yang sebenarnya. Saya tahu bahwa saya tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariNya. Saya telanjang di hadapanNya.
Saya memohon kepadaNya untuk menghilangkan kecenderungan lesbian ini karena Ia-lah yang mempunyai kuasa atas segalanya. Berulang kali saya memanjatkan doa dengan isi yang sama. Saya merengek dan menangis kepadaNya. Namun, kecenderungan lesbian ini tetap ada. Lalu saya meminta lagi kepadaNya untuk mematikan (mendisfungsikan) organ-organ reproduksi, organ yang mengatur fungsi seksual, atau apa saja yang menyebabkan kecenderungan ini ada. Doa saya tidak dikabulkan. Lagi-lagi kecenderungan ini tetap ada. Akhirnya, saya memintaNya untuk mencabut nyawa saya.
Apa yang terjadi? Ternyata Tuhan tidak ada karena saya tidak mati dan kecenderungan ini tetap ada. Oleh karena itu, saya menjauh dari Tuhan. Saya merasa bahwa Tuhan itu tidak ada. Itulah fase dimana saya hilang iman dan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Saya tidak lagi ke gereja dan tidak peduli lagi akan dosa, neraka, Tuhan, surga, dan tetek bengek yang lain. Hal ini berlangsung selama tiga tahun lamanya.
Dalam kurun waktu tiga tahun itu, saya bertahan dalam konflik diri yang terus-menerus. Bagai penyakit kambuhan, sebentar ia datang, sebentar ia pergi. Semua saya tanggung sendiri. Saya tidak memiliki teman untuk berbagi. Saya tidak bisa mempercayai teman atau siapapun untuk diajak bicara. Lama-lama, saya merasa hampa, kosong, kering kerontang, dan tidak berdaya. Mungkin bila saya datang ke Psikiater, saya akan didiagnosa menderita depresi ringan, lalu diberi pil-pil anti-depresan.
Meski merasa hampa dan tidak berdaya, jauh di lubuk hati yang paling dalam, saya masih menaruh kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Oleh sebab itu, saya tetap menjaga segala tingkah laku saya agar saya tidak terjerumus dalam lembah kekelaman yang semakin dalam. Hati saya tetap bersetia untuk mencari kebenaran dari Tuhan. Saya yakin bahwa saya pasti akan menemukan jalan kedamaian. Dan saya tidak berputus asa untuk mencari kebenaran.
Dalam pencarian, akhirnya saya menemukan Tuhan justru dalam jiwa seorang lesbian. Kecintaannya terhadap film telah dipakai Tuhan sebagai sarana untuk menghantarkan saya ke pintu gerbang menuju jalan kedamaian. Setelah mengganti beberapa kata dari kutipan yang ia ambil dalam dialog suatu film, saya ucapkan kalimat ini berkali-kali, “Since God is Love and He doesn’t make mistake, then I must be exactly the way He wants me to be, the way He intended me to be.” Kata-kata ini serupa mantra yang menyulap kehidupan saya selanjutnya. Itulah titik awal pencerahan saya yang membawa saya pada pencerahan-pencerahan selanjutnya.
Saya kemudian mencari pengetahuan tentang Tuhan. Saya berpaling pada spiritualisme. Saya mencari pengetahuan tentang yoga dan meditasi, membaca buku-buku tentang ajaran dari berbagai agama, dan membaca kisah-kisah perjalanan spiritual orang lain dari berbagai agama. Sesaat saya merasa baik. Namun segala sesuatunya berasa tidak jelas. Saya tidak tahu mata saya tertuju pada Tuhan yang mana. Saya bingung dengan konsepsi yang disebut Tuhan. Ada yang bilang Pelita, Cahaya, Sesuatu yang Tertinggi, Kebaikan, Allah, Ilah, Yesus, Diri, dan lain-lain. Entahlah. Saya bingung. Namun demikian, saya tetap berpegang teguh pada iman bahwa Tuhan adalah kasih.
Hari-hari terus berlalu, hingga saat itu tiba. Saat dimana saya merasa berada dalam fase tersulit dalam hidup saya, yakni ketika saya harus memilih keputusan untuk menikah atau tidak menikah. Mata saya tertuju pada rak buku. Hati saya tergerak untuk mengambil sebuah buku yang tertumpuk di antara buku-buku lain yang masih tersegel. Buku itu berjudul, The Purpose Driven Life karya Rick Warren. Saya mulai membuka dan membacanya.
Ajaib, sungguh ajaib. Sungguh luar biasa. Mata saya yang “buta” dicelikkan oleh Tuhan. Ia menyibakkan tirai kegelapan dalam diri saya dan menunjukkan terang kebenaranNya kepada saya. Kebenaran hakiki bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah, Sang Pencipta. Ia yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Ia yang menciptakan segala sesuatunya, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan, dan yang tidak kelihatan. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Dan Dia adalah kasih. Nyata benar bahwa Tuhan adalah kasih.
Melalui buku itu, saya dibawa pada kebenaran-kebenaran yang mendamaikan: mendamaikan saya dengan diri saya dan mendamaikan saya dengan Sang Pencipta. Kebenaran-kebenaran itu teramat banyak sehingga tak dapat saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini. Namun demikian, saya ingin mengatakan bahwa kebenaran yang satu ini adalah titik klimaks kebenaran yang mengubah hidup saya.
Kebenaran itu ialah kebenaran bahwa semua manusia telah berdosa. Ada tertulis dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” Jadi kebenarannya adalah: saya memiliki kecenderungan lesbian atau tidak, saya telah berdosa. Saya menjadi lesbian atau tidak, saya tetap berdosa. Darah saya telah tercemar dosa bahkan sejak saya masih berada dalam kandungan. Seandainya saya mati dalam kandungan dan tidak sempat “berbuat dosa” di dunia, saya tetap berdosa. Tidak ada yang tidak berdosa.
Lalu, apakah itu berarti bahwa saya dan semua manusia akan masuk neraka? Tidak. Ada Penebus yang telah disediakan untuk menebus dosa-dosa saya dan semua manusia; serta menyelamatkan saya dan semua manusia dari Lautan Api Neraka. Dan itu semua bisa diperoleh dengan cuma-cuma. Sebab ada tertulis, “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya. MaksudNya ialah untuk menunjukkan keadilanNya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.” (Roma 3:24-26).
Ayat selanjutnya mengatakan, “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!”
Saya terhenyak membaca ayat ini. Betapa besarnya kasih Sang Pencipta kepada saya, kepada semua orang, kepada dunia ini sehingga Ia memberi penebusan atas dosa secara cuma-cuma. Bukan karena perbuatan baik saya, tetapi berdasarkan iman.
Apa itu iman? Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1).
Kesimpulannya adalah saya mau mempercayai Yesus, walau tidak harus melihat Yesus. Saya mau mempercayai Yesus, walau Yesus tidak datang langsung kepada saya. Saya mau mempercayai Yesus, walau saya tidak mengalami pengalaman mistis, ilahiah, dan supranatural. Saya mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat saya. Dengan demikian, darah saya yang telah tercemar dosa, telah disucikan oleh darah Yesus. Dosa-dosa saya telah ditebus, bukan dengan emas, berlian, atau permata, tetapi dengan darah. An eye for an eye. Nyawa ganti nyawa. Darah ganti darah.
Lalu apakah orang yang beragama Kristen saja yang diselamatkan? Tidak. Kebenaran mengatakan, “Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.”
Dengan demikian, bukan orang yang beragama Kristen yang diselamatkan, bukan orang yang beragama apa pun. Tetapi orang yang diselamatkan adalah orang yang percaya kepada Yesus bahwa dirinya telah diselamatkan oleh darah Yesus yang disalibkan itu. Orang yang percaya kepada Yesus walau tidak melihatnya. Orang yang semula tidak percaya kepada Yesus, namun mau percaya kepada Yesus. Orang yang menyambut Yesus serupa anak kecil yang polos dan memandang sempurna orangtuanya.
***
Saya bukanlah orang yang fanatik dengan suatu agama. Saya tidak suka membawa-bawa nama agama satu pun. Ketahuilah bahwa saya telah mencari pengetahuan tentang Tuhan dari berbagai agama. Saya sampai pada konsep bahwa Tuhan hanya satu. Dia adalah yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, termasuk manusia. Oleh sebab itu, saya menyebut Tuhan dengan “Sang Pencipta” dalam tulisan-tulisan saya.
Saya bersyukur dan berbahagia oleh apa yang telah terjadi pada diri saya. Saya percaya bahwa apa yang saya lakukan ini adalah bagian dari rencana Sang Pencipta. Ia menciptakan saya dengan maksud dan tujuanNya tersendiri untuk saya. Dan sampai sejauh ini, hati saya terus tergerak (saya percaya ini digerakkan oleh Sang Pencipta) untuk menulis dan menulis.
Bisikan itu mendengung-dengung di telinga saya setiap hari. Bisikan bahwa Sang Pencipta mengasihi jiwa-jiwa lesbian. Lesbian yang diciptakanNya untuk maksud dan tujuanNya sendiri. Sang Pencipta tidak mau melihat ciptaanNya merasa menderita dan terkutuk dalam keadaan dirinya. Sang Pencipta tidak mau ciptaanNya mengambil jalan yang salah karena tidak tahu bahwa jalan terang itu ada. Sang Pencipta tidak mau ciptaanNya menjadi binasa karena tidak tahu bahwa jalan keselamatan itu ada. Ini semua karena Sang Pencipta adalah Kasih.
Saya tidak peduli dengan anggapan bahwa ini semua hanya usaha pembenaran diri, pemikiran, kehendak hati, atau apa pun perbuatan saya dalam segala ketidaksempurnaan saya. Saya hanya mau memegang teguh kepercayaan bahwa saya akan dibenarkan karena iman saya. Saya mau melakukan bagian saya yakni menghantarkan sebanyak mungkin jiwa lesbian kepada pintu gerbang menuju jalan kedamaian itu. Selanjutnya adalah bagian Sang Pencipta. Sang Pencipta-lah yang akan menuntun jiwa-jiwa lesbian itu untuk menempuh jalan kedamaian menuju keselamatan.
Kemuliaan hanya bagi Allah, Sang Pencipta.
#4: Tentang Tuhan dan dosa
Doktrinasi ajaran agama telah membuat saya merasa berdosa atas kecenderungan lesbian ini. Saya takut kepada Tuhan atas penghukuman yang akan dijatuhkanNya kepada saya saat Hari Penghakiman Terakhir. Saya takut bila saya dijebloskan ke dalam lautan api neraka yang penuh dengan ratap dan kertak gigi untuk disiksa selama-lamanya. Saya takut bila saya bernasib tragis seperti penduduk Sodom dan Gomora yang dibinasakan dengan hujan api dan belerang. Intinya, saya merasa bahwa menjadi lesbian itu dosa.
Pada mulanya, saya tidak mau mengaku di hadapan Tuhan bahwa saya memiliki kecenderungan lesbian ini. Dalam doa, saya hanya meminta ampun atas segala dosa dan kesalahan saya. Waktu itu saya masih menyangkal di hadapan Tuhan bahwa saya memiliki kecenderungan lesbian, “Saya nggak lesbi kok,” pikir saya. Saat itu, saya merasa bahwa saya bisa menyembunyikan rahasia ini dari Tuhan.
Ternyata saya salah besar. Bersembunyi dari Tuhan justru membuat saya merasa semakin tersiksa dengan kecenderungan lesbian yang muncul dalam pola datang dan pergi. Saya merasa berputar-putar dalam kegelapan. Saya uring-uringan, mudah marah, super sensitif, dan merasa kesepian yang amat sangat. Dalam keputusasaan dan kefrustrasian, saya akhirnya mengaku dengan jujur di hadapanNya atas keadaan diri saya yang sebenarnya. Saya tahu bahwa saya tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariNya. Saya telanjang di hadapanNya.
Saya memohon kepadaNya untuk menghilangkan kecenderungan lesbian ini karena Ia-lah yang mempunyai kuasa atas segalanya. Berulang kali saya memanjatkan doa dengan isi yang sama. Saya merengek dan menangis kepadaNya. Namun, kecenderungan lesbian ini tetap ada. Lalu saya meminta lagi kepadaNya untuk mematikan (mendisfungsikan) organ-organ reproduksi, organ yang mengatur fungsi seksual, atau apa saja yang menyebabkan kecenderungan ini ada. Doa saya tidak dikabulkan. Lagi-lagi kecenderungan ini tetap ada. Akhirnya, saya memintaNya untuk mencabut nyawa saya.
Apa yang terjadi? Ternyata Tuhan tidak ada karena saya tidak mati dan kecenderungan ini tetap ada. Oleh karena itu, saya menjauh dari Tuhan. Saya merasa bahwa Tuhan itu tidak ada. Itulah fase dimana saya hilang iman dan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Saya tidak lagi ke gereja dan tidak peduli lagi akan dosa, neraka, Tuhan, surga, dan tetek bengek yang lain. Hal ini berlangsung selama tiga tahun lamanya.
Dalam kurun waktu tiga tahun itu, saya bertahan dalam konflik diri yang terus-menerus. Bagai penyakit kambuhan, sebentar ia datang, sebentar ia pergi. Semua saya tanggung sendiri. Saya tidak memiliki teman untuk berbagi. Saya tidak bisa mempercayai teman atau siapapun untuk diajak bicara. Lama-lama, saya merasa hampa, kosong, kering kerontang, dan tidak berdaya. Mungkin bila saya datang ke Psikiater, saya akan didiagnosa menderita depresi ringan, lalu diberi pil-pil anti-depresan.
Meski merasa hampa dan tidak berdaya, jauh di lubuk hati yang paling dalam, saya masih menaruh kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Oleh sebab itu, saya tetap menjaga segala tingkah laku saya agar saya tidak terjerumus dalam lembah kekelaman yang semakin dalam. Hati saya tetap bersetia untuk mencari kebenaran dari Tuhan. Saya yakin bahwa saya pasti akan menemukan jalan kedamaian. Dan saya tidak berputus asa untuk mencari kebenaran.
Dalam pencarian, akhirnya saya menemukan Tuhan justru dalam jiwa seorang lesbian. Kecintaannya terhadap film telah dipakai Tuhan sebagai sarana untuk menghantarkan saya ke pintu gerbang menuju jalan kedamaian. Setelah mengganti beberapa kata dari kutipan yang ia ambil dalam dialog suatu film, saya ucapkan kalimat ini berkali-kali, “Since God is Love and He doesn’t make mistake, then I must be exactly the way He wants me to be, the way He intended me to be.” Kata-kata ini serupa mantra yang menyulap kehidupan saya selanjutnya. Itulah titik awal pencerahan saya yang membawa saya pada pencerahan-pencerahan selanjutnya.
Saya kemudian mencari pengetahuan tentang Tuhan. Saya berpaling pada spiritualisme. Saya mencari pengetahuan tentang yoga dan meditasi, membaca buku-buku tentang ajaran dari berbagai agama, dan membaca kisah-kisah perjalanan spiritual orang lain dari berbagai agama. Sesaat saya merasa baik. Namun segala sesuatunya berasa tidak jelas. Saya tidak tahu mata saya tertuju pada Tuhan yang mana. Saya bingung dengan konsepsi yang disebut Tuhan. Ada yang bilang Pelita, Cahaya, Sesuatu yang Tertinggi, Kebaikan, Allah, Ilah, Yesus, Diri, dan lain-lain. Entahlah. Saya bingung. Namun demikian, saya tetap berpegang teguh pada iman bahwa Tuhan adalah kasih.
Hari-hari terus berlalu, hingga saat itu tiba. Saat dimana saya merasa berada dalam fase tersulit dalam hidup saya, yakni ketika saya harus memilih keputusan untuk menikah atau tidak menikah. Mata saya tertuju pada rak buku. Hati saya tergerak untuk mengambil sebuah buku yang tertumpuk di antara buku-buku lain yang masih tersegel. Buku itu berjudul, The Purpose Driven Life karya Rick Warren. Saya mulai membuka dan membacanya.
Ajaib, sungguh ajaib. Sungguh luar biasa. Mata saya yang “buta” dicelikkan oleh Tuhan. Ia menyibakkan tirai kegelapan dalam diri saya dan menunjukkan terang kebenaranNya kepada saya. Kebenaran hakiki bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah, Sang Pencipta. Ia yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Ia yang menciptakan segala sesuatunya, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan, dan yang tidak kelihatan. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Dan Dia adalah kasih. Nyata benar bahwa Tuhan adalah kasih.
Melalui buku itu, saya dibawa pada kebenaran-kebenaran yang mendamaikan: mendamaikan saya dengan diri saya dan mendamaikan saya dengan Sang Pencipta. Kebenaran-kebenaran itu teramat banyak sehingga tak dapat saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini. Namun demikian, saya ingin mengatakan bahwa kebenaran yang satu ini adalah titik klimaks kebenaran yang mengubah hidup saya.
Kebenaran itu ialah kebenaran bahwa semua manusia telah berdosa. Ada tertulis dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” Jadi kebenarannya adalah: saya memiliki kecenderungan lesbian atau tidak, saya telah berdosa. Saya menjadi lesbian atau tidak, saya tetap berdosa. Darah saya telah tercemar dosa bahkan sejak saya masih berada dalam kandungan. Seandainya saya mati dalam kandungan dan tidak sempat “berbuat dosa” di dunia, saya tetap berdosa. Tidak ada yang tidak berdosa.
Lalu, apakah itu berarti bahwa saya dan semua manusia akan masuk neraka? Tidak. Ada Penebus yang telah disediakan untuk menebus dosa-dosa saya dan semua manusia; serta menyelamatkan saya dan semua manusia dari Lautan Api Neraka. Dan itu semua bisa diperoleh dengan cuma-cuma. Sebab ada tertulis, “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya. MaksudNya ialah untuk menunjukkan keadilanNya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.” (Roma 3:24-26).
Ayat selanjutnya mengatakan, “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!”
Saya terhenyak membaca ayat ini. Betapa besarnya kasih Sang Pencipta kepada saya, kepada semua orang, kepada dunia ini sehingga Ia memberi penebusan atas dosa secara cuma-cuma. Bukan karena perbuatan baik saya, tetapi berdasarkan iman.
Apa itu iman? Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1).
Kesimpulannya adalah saya mau mempercayai Yesus, walau tidak harus melihat Yesus. Saya mau mempercayai Yesus, walau Yesus tidak datang langsung kepada saya. Saya mau mempercayai Yesus, walau saya tidak mengalami pengalaman mistis, ilahiah, dan supranatural. Saya mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat saya. Dengan demikian, darah saya yang telah tercemar dosa, telah disucikan oleh darah Yesus. Dosa-dosa saya telah ditebus, bukan dengan emas, berlian, atau permata, tetapi dengan darah. An eye for an eye. Nyawa ganti nyawa. Darah ganti darah.
Lalu apakah orang yang beragama Kristen saja yang diselamatkan? Tidak. Kebenaran mengatakan, “Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.”
Dengan demikian, bukan orang yang beragama Kristen yang diselamatkan, bukan orang yang beragama apa pun. Tetapi orang yang diselamatkan adalah orang yang percaya kepada Yesus bahwa dirinya telah diselamatkan oleh darah Yesus yang disalibkan itu. Orang yang percaya kepada Yesus walau tidak melihatnya. Orang yang semula tidak percaya kepada Yesus, namun mau percaya kepada Yesus. Orang yang menyambut Yesus serupa anak kecil yang polos dan memandang sempurna orangtuanya.
***
Saya bukanlah orang yang fanatik dengan suatu agama. Saya tidak suka membawa-bawa nama agama satu pun. Ketahuilah bahwa saya telah mencari pengetahuan tentang Tuhan dari berbagai agama. Saya sampai pada konsep bahwa Tuhan hanya satu. Dia adalah yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, termasuk manusia. Oleh sebab itu, saya menyebut Tuhan dengan “Sang Pencipta” dalam tulisan-tulisan saya.
Saya bersyukur dan berbahagia oleh apa yang telah terjadi pada diri saya. Saya percaya bahwa apa yang saya lakukan ini adalah bagian dari rencana Sang Pencipta. Ia menciptakan saya dengan maksud dan tujuanNya tersendiri untuk saya. Dan sampai sejauh ini, hati saya terus tergerak (saya percaya ini digerakkan oleh Sang Pencipta) untuk menulis dan menulis.
Bisikan itu mendengung-dengung di telinga saya setiap hari. Bisikan bahwa Sang Pencipta mengasihi jiwa-jiwa lesbian. Lesbian yang diciptakanNya untuk maksud dan tujuanNya sendiri. Sang Pencipta tidak mau melihat ciptaanNya merasa menderita dan terkutuk dalam keadaan dirinya. Sang Pencipta tidak mau ciptaanNya mengambil jalan yang salah karena tidak tahu bahwa jalan terang itu ada. Sang Pencipta tidak mau ciptaanNya menjadi binasa karena tidak tahu bahwa jalan keselamatan itu ada. Ini semua karena Sang Pencipta adalah Kasih.
Saya tidak peduli dengan anggapan bahwa ini semua hanya usaha pembenaran diri, pemikiran, kehendak hati, atau apa pun perbuatan saya dalam segala ketidaksempurnaan saya. Saya hanya mau memegang teguh kepercayaan bahwa saya akan dibenarkan karena iman saya. Saya mau melakukan bagian saya yakni menghantarkan sebanyak mungkin jiwa lesbian kepada pintu gerbang menuju jalan kedamaian itu. Selanjutnya adalah bagian Sang Pencipta. Sang Pencipta-lah yang akan menuntun jiwa-jiwa lesbian itu untuk menempuh jalan kedamaian menuju keselamatan.
Kemuliaan hanya bagi Allah, Sang Pencipta.
Posted in: Dosa, Kebenaran on Jumat, Oktober 10, 2008 at di 17:39



Poskan Komentar