In Between
Suatu hari saya menemani sahabat wanita berkunjung ke toko perlengkapan jahit. Ketika sedang melihat-lihat, saya dikejutkan oleh pelayan toko itu yang mengatakan, “Aku ki sengit banget karo wong Cino” (Aku tuh benci sekali dengan orang Cina). Entah apa yang membuatnya tiba-tiba berkata seperti itu, yang jelas perhatian saya jadi tertuju pada gadis ramah berkulit hitam manis itu.
“Oh ya?” kata saya, “Ngapa mbak?”
“Lha mbuh. Ket mbiyen ki aku sengiiiiit banget karo wong Cino.”
(Tidak tahu. Dari dulu tuh saya benciiii sekali dengan orang Cina)
“Ya, pasti kan ada sebabnya to mbak?”
“Wong Cino ki pelit. Lha aku ki nek kerjo malah mesti karo wong Cino, mbak.”
(Orang Cina itu pelit. Lha saya tuh kalau kerja malahan pasti sama orang Cina, mbak)
Tak berapa lama kemudian, anak si pemilik toko berjalan keluar. Pelayan toko itu menatap sinis anak itu sambil berkomentar dengan mata memicing-micing, “Cah nakal wae. Anak Cino ki nakal-nakal.” (Anak nakal aja. Anak Cina tuh nakal-nakal).
Mendengarnya berkata seperti itu, saya hanya tersenyum-senyum saja. Ah, seperti biasa, mbak yang satu ini juga nggak tahu kalau saya ini juga “Wong Cino” alias Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa. Yah wajarlah kalau mbak itu berani berkata demikian di depan saya, secara penampilan fisik, saya tidak seperti kebanyakan orang Cina yang bermata sipit dan berkulit putih.
Mari saya ceritakan sedikit tentang silsilah keluarga saya. Kakek buyut saya (dari kedua belah pihak orangtua) adalah Cina totok yang beristrikan warga pribumi bersuku Jawa. Selanjutnya, keturunan-keturunannya disebut Cina peranakan, bukan lagi Cina totok. Ada keturunan yang mewarisi gen Cina, ada pula gen Jawa, pun kombinasi keduanya. Ada yang berkulit putih, bermata sipit. Ada yang berkulit sawo matang, bermata lebar. Ada yang berkulit sawo matang, bermata sipit. Ada yang berkulit putih, bermata lebar.
Ayah saya bermarga Y***, ibu saya bermarga H** (Hehehe… untuk yang satu ini saya sensor ya). Secara fisik, ayah dan ibu saya bisa dibilang Hitachi (Hitam tapi China). Dan jadilah saya tidak memiliki penampakan fisik sebagaimana kebanyakan peranakan Cina di Indonesia. Mata saya tidak sipit, tetapi cukup lebar dan memiliki garis kelopak mata sehingga tidak perlu memakai scotch. Kulit saya tidak putih, tetapi kuning. Sekarang ini, malah banyak yang mengira saya orang Manado, Kalimantan, atau Sunda.
Sedikit flashback, ketika saya kecil hingga remaja, hidup saya sedikit sulit berkaitan dengan kondisi fisik saya ini. Dari SD hingga SMP, saya mengenyam pendidikan di sekolah yang mayoritas muridnya keturunan Cina. Teman-teman sering bertanya kepada saya, “Eh, kamu tuh Cina apa Jawa sih?”. Saya selalu ngotot menjawab, “Cina.” Lain waktu, mereka akan bertanya lagi, mengetes keaslian saya. Uji validitas dan reliabilitas ke-Cina-an saya biasanya berupa pertanyaan seperti ini:
“Kalau kamu manggil kakakmu apa?”
“Aku manggil namanya aja. Kita cuma selisih setahun. Harusnya aku panggil dia Koko”
“Kalau adikmu?”
“Aku juga manggil pake namanya. Tapi kalo orang Cina biasa manggilnya Meme kan?”
“Nha, kalau kakek nenekmu?”
“Kalau dari pihak papah, aku manggilnya Kung Kung sama Bo Bo. Kalau dari pihak mamah, aku manggilnya Kong sama Mak .”
Hmm, baru deh, mereka mau berteman dengan saya.
Lain lagi jika saya berada di rumah. Lingkungan tempat tinggal saya mayoritas penduduknya adalah warga pribumi alias orang Jawa. Tetangga dan anak-anaknya sering meledek kami dengan sebutan “Cino. Cino.” Kalau tidak, mereka akan berpura-pura berbahasa Cina seolah mencemooh kami. Padahal kami tuh nggak bisa dan nggak pernah berbahasa Cina. Paling-paling tahu bahasa sehari-hari yang orang Jawa pun banyak yang ngerti. Ce pek, no pek, go cap, go ceng, hah ca pek dech… .
Menginjak SMA, saya bersekolah di Sekolah Negeri yang hampir semua muridnya orang pribumi. Nah, di sekolah ini, saya malah populer karena penampilan fisik saya yang relatif menonjol. Kulit saya terlihat putih. Postur tubuh saya yang 164cm, termasuk tinggi di sekolah. Penampilan fisik saya ini membuat banyak kakak kelas yang naksir saya. “Eh, tahu El nggak?” “Oh, El yang tinggi putih itu?”
Teman-teman SMA tidak begitu mempedulikan ras saya. Mungkin karena mereka cenderung tidak enak, takut menyinggung, dan perilaku lain tipikal khas orang Jawa yang lain di depan, lain di belakang. Hanya teman-teman yang sudah dekat dengan saya saja yang berani mengatakan kecurigaan mereka bahwa saya ini orang Cina. Saya pun hanya mengaku pada beberapa teman dekat saja yang saya yakin mau menerima saya apa adanya.
Pernah teman se-gank berkata sinis pada pemilik wartel di depan sekolah yang adalah orang Cina, “Huu, dasar wong Cino. Itungan. Pelit. Nyebahi.” (Huh, dasar orang Cina. Perhitungan. Pelit. Menyebalkan). Saya berkata padanya, “Ho’o to. Lha nek kowe sengit ra karo aku?” (Iya ya? Lha kalau kamu benci nggak sama aku?). Dia menimpali, “Yo ora to yo. Emange kowe Cino?” (Ya enggak lah ya. Memangnya kamu Cina?). Saya hanya tersenyum sambil menggeleng. Saat itu saya hanya mencari aman soalnya teman saya itu ketua genk yang sok berkuasa sekaligus public enemy. Hehehe…takuuut.
Singkat kata, itulah kehidupan saya yang berkaitan dengan ketidakjelasan rupa saya antara Cina-Jawa. Jika berkumpul dengan kalangan etnis Cina, saya diragukan ke-Cina-annya. Jika berkumpul dengan kalangan etnis Jawa, saya diragukan ke-Jawa-annya. Serba tidak jelas dan cukup menyulitkan.
Barulah kondisinya membaik selepas SMA, ketika saya mulai menginjak usia dewasa muda dimana fase pencarian identitas diri mulai menampakkan kejelasannya. Saya berkuliah di universitas swasta yang mahasiswanya terdiri dari berbagai kalangan etnis. Saya tidak lagi terhimpit dalam dualisme Cina-Jawa, melainkan berteman bahkan bersahabat dengan orang-orang dari berbagai kalangan etnis di Indonesia.
Jurusan yang saya pilih adalah Psikologi. Di sana saya belajar tentang perilaku manusia dengan segenap kompleksitasnya. Saya mulai mengerti dan memahami bahwa pada hakikatnya manusia itu sama. Mereka memiliki karakteristik dasar yang sama. Dalam perkembangannya, mereka berdiferensiasi dibawah pengaruh faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosial. Itulah yang kemudian membedakan manusia satu dengan yang lainnya.
Pengetahuan ini membuat saya mulai dapat mengerti dan memahami segala sesuatunya. Saya mulai dapat menerima diri seutuhnya, termasuk penampakan fisik saya yang nggak jelas Cina-Jawanya. Alih-alih sibuk memusingkan diri dengan masalah suku dan ras, saya lebih memilih untuk mengembangkan kualitas positif dari kombinasi gen Cina dan Jawa dalam diri saya.
Saya memilih untuk berhemat, bukannya pelit. Bermurah hati dengan bijak, bukannya memberi dengan pamrih. Mengembangkan jiwa kewirausahaan untuk membangun fondasi keuangan yang kokoh, bukannya menuntut gaji yang tinggi dulu baru mau bekerja keras. Mendahulukan hal-hal penting yang memang menjadi prioritas, bukannya mendahulukan kepentingan orang lain dengan dalih solidaritas.
Bersikap ramah, halus, dan sopan, bukannya bersikap angkuh seolah ras satu lebih unggul dari ras lain. Berlaku rendah hati, bukannya merendahkan diri dan orang lain. Lebih menilai orang dari isinya, daripada kulitnya. Lebih melihat kualitas hati orang, daripada kuantitas materialistik. Berpikiran terbuka, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai universal, ketimbang berpikiran sempit dan pilih-pilih teman.
Seraya saya terus bertumbuh dan berkembang, saya merasa bahwa diri saya terus bergerak menuju kematangan pribadi. Dulu apa yang saya lihat sebagai kesialan, kini saya lihat sebagai keberuntungan. Saya bersyukur terlahir dalam keadaan fisik seperti ini, karena keadaan itu justru mendatangkan kebaikan dan keuntungan bagi saya. Saya bisa mendapat tempat di hati kalangan etnis Cina, pun mengambil hati di kalangan etnis Jawa. Nilai-nilai universal yang saya junjung, memampukan saya untuk menghargai perbedaan suku, agama, dan ras sehingga saya bisa berdamai dengan perbedaan itu.
In between. Homeostatis. Equilibrium. Balance. Saya berada di tengah-tengah, di antaranya. Tidak hitam kopi, tidak putih susu, tetapi coklat mocca. Tidak sulung, tidak bungsu, tetapi si tengah. Not a winner, nor a looser, but a peacemaker with a win-win sollution. Tidak kaya, tidak miskin, tetapi cukup. Tidak femme, tidak butchie, tetapi andro…soft andro.
Bagaimana kelanjutan cerita si pelayan toko dan si nggak jelas ini? Inilah kelanjutannya:
“Eeh, lha aku ki sengit karo wong Cino, malah pacarku wong Cino je mbak… Karma po yo?”
(Eeh, lha aku ini benci sama orang Cina, malah pacarku orang Cina mbak… Karma apa ya?)
“Wuah, iya to mbak? Wis pirang tahun?”
(Wuah, iya ya mbak? Sudah berapa tahun?)
“Wis enem taun, mbak. De’e bosku mbiyen.”
(Sudah enam tahun mbak. Dia bosku dulu)
“Hah??? Oalah mbak. Hayo kuwi, sengit ndulit.”
(Hah??? Oalah mbak. Ya itu, ???? aduh apa ya padanan katanya dalam bahasa Indonesia? Hmm, kira-kira artinya begini, benci banget sih benci banget, tapi lama-lama nyolek juga alias suka juga).
Posted in: Perbedaan on Sabtu, November 15, 2008 at di 13:35


el.. el.. elektra..
numpang mampir dan baca,salam kenal.
-luna
Luna? Luna yang mana nie... Luna si kucing Usagi Tsukino The Sailor Moon? Luna Maya? La Luna...?
No...no.. You must be Luna, the creation of God Almighty, bukan Bruce Almighty yah. Luna, the one and only with her own uniqueness.
Elektra? Salah satu film kesukaan saya tuh. Cocok banget diperanin ma Jennifer Gardner, apalagi pas kelahi ma Ben Affleck di Daredevil. Uuwh...cantik bangeet kalo marah. Keren abis!!!
dear Luna, thanks ya udh mampir n baca. Salam kenal juga.. .
he.he..artikel sing Inspiratif..