Permulaan yang Baru

Aku bersyukur oleh sebab Tuhan telah mendamaikan jiwaku.
Ia membebaskan aku dari belenggu ketakutan dan kekhawatiran.
Ia memberi jaminan kepadaku akan hari depan yang penuh harapan.
Ia adalah Kasih. Ia adalah Setia.
Ia menggendong aku dan terus memikul aku.
Ia telah, sedang, dan akan selalu mengasihiku dengan kasih yang sesungguhnya.


Terimakasih kepada Alex, pribadi yang paling berjasa dalam titik awal pencerahanku. Darimu kubelajar kebenaran bahwa Tuhan adalah Kasih. Dia tidak membuat kesalahan. Maka aku mengada sebagaimana Ia mau aku ada. Aku belajar darimu bahwa mujizat berpikir positif itu memang nyata ada. Kesukaanmu membuatku belajar tentang kehidupan darinya. Aku tak bisa membalas budimu, biarlah Tuhan yang membalaskannya untukmu. Aku hanya punya hati untuk mau mengasihimu dengan tulus sepanjang masaku.

Terimakasih kepada Lakhsmi, perempuan pemintal kata yang begitu memesona. Darimu kubelajar untuk menjadi perempuan yang tangguh namun tetap lembut. Engkau mendidikku, menegurku, mengingatkanku melalui untaian kata-katamu: untuk tidak memintal kata dengan serampangan; untuk tidak terlalu mengikuti dorongan hati; untuk mengada dengan cara-cara yang elok dan anggun; untuk tidak menggarami terlalu banyak hingga menjadi terlalu asin dan malah memuakkan; untuk tidak mendengki dan saling menyakiti. Terimakasih untuk banyak hal yang tak terhitung sejak aku menemukan oase itu dan kini pohon hatimu. Sekalipun aku tidak mengenalmu secara personal, ketahuilah bahwa aku mengagumimu. Kasih itu senantiasa bersemayam di Pohon Hatimu. Itulah yang menyukakan hatiku.

Terimakasih kepada Ade Rain. Darimu kubelajar untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Di mataku, engkau adalah kebesaran yang menaungi. Engkau adalah kemewahan, namun busung dada tiada padamu. Engkau begitu abstrak, namun aku bersukacita karena aku ada di dalammu, bagai rumput kecil yang mengakar di Hutan Hatimu. Aku mulai mengerti arti Ujan; Rain; Rainforesto. Itu adalah engkau. Darimu kubelajar bahwa diam, bukan berarti tak peduli.

Terimakasih kepada Bening. Darimu kubelajar akan arti cinta tak bersyarat, cinta yang tulus, cinta yang tak mengenal batas. Engkau adalah pribadi yang humanis. Engkau "kecil", tapi bagai intan permata. Ah, tidak. Engkau "kecil", tapi keindahanmu melebihi intan permata. Hatimu bening, sebening embun, dan aku mulai mengerti arti kata itu. Engkaulah yang layak menyandang nama itu.

Terimakasih kepada Jo. Darimu kubelajar untuk menjadi diri apa adanya, untuk tetap berdiri tegak di atas kaki sendiri namun tetap berpegang teguh pada Sumber Kekuatan. Untuk tidak terlalu serius, untuk tidak terlalu memasukkan segala sesuatunya kedalam hati. Engkau memperhatikan hal-hal kecil (justru itulah yang paling berarti), engkau begitu menyenangkan. Lakumu mengingatkanku untuk menjadi pendamai sebagaimana mulaku, bukannya menjadi pendengki yang gemar menyebar angkara. Dan engkau tahu Jo? Aku mencintai Jo.

Terimakasih kepada Kumara Dewi. Darimu kubelajar untuk tidak lupa mendongak ke atas. Untuk terus berintrospeksi dan melakukan kontemplasi. Untuk tidak bermegah dalam diri, sebaliknya berlutut dan tersungkur di hadapanNya. Dan Ia adalah pemurah, tak memperhitungkan kesalahan, serta penuh kasih. Engkau memberiku keyakinan bahwa ada pribadi di bumi yang mau setia, mau menerima kita apa adanya, dalam segala baik dan buruk rupa kita. Tetaplah tegar dan kuat karena engkau memberi arti pada banyak orang.

Terimakasih kepada Sagita. Canda dan tawamu bagi gelitik yang menimbulkan pingkal pada perutku. Well, sepertinya humor adalah kebutuhan. Gayamu yang sedikit (banyak ding) selengekan, membuatku belajar untuk tidak selalu bermuram durja meratapi nasib dan kubang derita seolah neraka dunia mendera. Aih-aih... Di sisi lain, engkau pun dapat menyibak sisi arif bijaksanamu dan kepedulianmu pada mereka yang sedang terseok, jatuh, dan kepenyet bak tempe penyet, udah gitu dipenyet pakai sambal penyet pula. Am I funny? Oh, I don't think so.

Terimakasih kepada Shanz. Darimu kubelajar untuk memandang dengan mata (hati) dan merasa dengan hati dalam arti sesungguhnya. Tampillah dirimu sebagaimana adanya karena orang pun memandang dengan mata dan merasa dengan hati. Aku mengasihimu.

Terimakasih kepada para barista Sepoci Kopi. Kalianlah yang mengajariku akan arti kehidupan. Ledakan-ledakan gairah dalam tulisan-tulisan kalianlah yang menyalakan nyala api gairahku untuk berani menulis. Untuk mulai menulis dan tidak menunda-nunda. Untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan. Untuk membebaskan jiwa. Untuk mendamaikan jiwa. Dan melalui menulis, aku telah mendapatkan kedamaian itu. Kian hari kian damai.

Terimakasih kepada seluruh pembaca dan pemberi komentar pada semua weblog lesbian. Dari kalianlah kubelajar bahwa dunia maya tidak jauh berbeda dengan dunia nyata. Ada baik. Ada buruk. Tapi tidak ada orang baik dan orang buruk. Semua orang baik karena pada mulanya telah diciptakan demikian. Maka aku memilih untuk melihat Tuhan dalam dirimu, namun tetap cerdik bagai ular, dan tulus seperti merpati.

Terimakasih kepada saudara seimanku. Engkau tiada pernah menghakimiku. Maafkan aku atas luka yang mungkin pernah kutorehkan pada hatimu. Tiada niat dan maksudku untuk sengaja melakukan itu. Satu yang pasti, Tuhan telah menyatakan mujizatNya atasmu. Tuhan telah menyatakan mujizatNya atasku. Dan aku mau mengakui Tuhan dalam segala lakuku, agar Ia meluruskan jalanku. Aku tahu, rancanganNya adalah rancangan terindah yang mendatangkan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan yang mendatangkan maut. Aku mengandalkan Tuhan dalam hidupku. Aku menaruh harapanku pada Tuhan. Dan aku tahu, Ia tidak mengecewakan.

Terimakasih kepada pengunjung Blog Kian Damai. Terimakasih untuk komentar yang kalian tinggalkan. Tegur sapamu kepadaku. Kepedulianmu padaku. Aku bukanlah orang yang sempurna dan merasa diri paling benar. Aku tidaklah sempurna. Jangan memandang manusia, karena engkau akan kecewa. Akan tetapi pandanglah Sang Pencipta yang menciptakan engkau, dan Ia tidak pernah mengecewakan engkau. Segala sesuatu indah pada waktuNya.

Kepada pribadi-pribadi lain yang tiada dapat kusebutkan satu per satu, baik di dunia nyata, pun maya. Terimakasih oleh kasih yang telah kalian berikan kepada saya, serta kesempatan yang telah kalian berikan kepada saya untuk mengasihi kalian.

Aku mendamba kedamaian di bumi, sampai akhirnya nanti kita berkumpul bersama dalam kedamaian yang sejati. Menikmati kehidupan yang sesungguhnya, dimana sukacita dan damai sejahtera senantiasa meliputi hati kita. Tiada lagi duka lara nestapa ratap dan air mata.

Aku tidak lagi kesepian. Aku tidak lagi membenci diriku. Aku tidak lagi berada dalam kegelapan. Semua karena Kasih. Kini, aku mau mengawali hari yang baru. Aku mau mengasihimu, sebanyak yang aku bisa, sebesar yang aku mampu. Adalah hal yang sangat membahagiakan dan mendamaikan jiwaku bila aku dapat mengasihimu, dan kamu mau mengasihiku.

Hatiku tertuju pada engkau yang memiliki kesamaan denganku terdahulu. Kesepian dan terus berkubang dalam konflik diri yang berputar-putar. Aku tahu bagaimana rasanya kesepian. Begitu menyakitkan. Aku tahu bagaimana rasanya ketakutan akan penghakiman dan penolakan. Begitu gelapnya kegelapan itu. Pelarianku adalah di dunia maya. Dan dari sanalah aku menemukan kedamaian, yang kemudian dapat kubawa di dunia nyata seiring aku mengenal Kasih Tuhan yang ternyata selalu menyertaiku.

Datanglah kepada Tuhan karena Dia hanya sejauh doa.

Setelah itu, maukah engkau berbagi cerita denganku? Berbagilah denganku karena aku mau ada untukmu. Aku mau mendengarkanmu. Tulislah sesuatu kepadaku. Dan aku mau meresponmu. Bila engkau tidak keberatan, aku ingin menampilkannya di blog ini. Biarlah mereka, yakni orang-orang yang penuh kasih, mendapat kesempatan untuk menabur kasih kepadamu dengan kepedulian yang tulus dan tidak pura-pura. Kasih tulus mereka akan membebaskanmu dari rasa kesepianmu.

Jangan takut karena aku tidak menerimamu karena kekayaanmu.
Aku tidak menolakmu karena kemiskinanmu.
Aku menerimamu dalam segala rupa baik burukmu.
Kasih tidak memandang rupa.

Aku menerimamu karena bahasa curahan hatimu adalah kejujuran terindah yang pernah ada. Aku mau menerimamu karena aku mengasihimu. Aku mau mengasihimu karena Tuhan terlebih dahulu mengasihiku. Maukah engkau mengasihiku dengan membiarkan aku dan orang lain mengasihimu? Tanya pada Tuhan dan dengarkan jawabanNya. Ingat, jangan memandang manusia. Pandanglah kepadaNya. Andalkanlah Dia. Setelah itu, kasihilah sesamamu manusia, karena Tuhan menghendakinya. Damai sejahtera senantiasa memenuhi hari-harimu.

4 komentar:

  1. Terima kasih kepada Elizabeth. Pertama kali kukenal dirimu dengan nama ini. Darinya aku belajar menjadi manusia yang lebih sensitif, peka terhadap perasaan orang lain. Belajar untuk damai dalam kesendirian dan pulang ke diriku sendiri.

     
  2. Thanks, El. Aku bisa serius juga kok kalo dibutuhkan hehehe

    Nyokkkk, jangan serius2. Gokil2an aja deh ;)

     
  3. eliz...ma kasih aku baru baca...sebuah untaian kata yang membesarkan hati...ma kasih ya

     
  4. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat kasih, berterimakasih, atau menerima kasih. Itulah kuasa kasih. Ma Kasih juga untuk "Mama" di sana.

     

Poskan Komentar