Tabur Tuai

Sejak dulu saya percaya akan hukum tabur tuai. Barangsiapa menabur kebaikan, ia akan menuai kebaikan. Barangsiapa menabur kejahatan, ia akan menuai kejahatan. Saya percaya hukum ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan, termasuk pekerjaan.

Sebut saja namanya Inah, wanita beranak satu, berasal dari salah satu desa terpencil di Kabupaten Bantul. Misal Inah ini jadi bintang tamu di acara televisi Empat Mata, pasti nama lengkapnya akan dijadikan bahan lelucon oleh Tukul Arwana. Padahal, Inah ini cantik, wajahnya tirus, hidungnya mancung, kulitnya kuning, tubuhnya tinggi semampai. Pokoknya jauh dari kesan ndeso, katro, udik, dll. Ketika saya tanya apakah ia memiliki darah indo atau masih ada keturunan asing, ia menjawab tidak. Tetapi saya yakin, moyangnya pasti ada yang berasal dari keturunan asing.

Inah adalah salah satu karyawan saya yang paling lugu dan santun. Ia rajin, jujur, dan tidak neko-neko. Bisa dipercaya dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang saya berikan padanya. Penuh tanggung jawab, takut berbuat kesalahan, dan tidak suka menjilat atasan. Ia juga setia karena ia menolak pekerjaan dengan gaji lebih tinggi yang pernah ditawarkan kepadanya oleh salon lain. Semua karakter Inah ini menyukakan hati saya sehingga saya tidak segan-segan memberi gaji yang lebih untuknya.

Inah mampu melakukan pekerjaan salon dengan baik. Ia rendah hati karena meski berpengalaman, ia tetap mau belajar. Dan sepertinya ia cerdas karena ia adalah seorang pembelajar yang cepat. Ia pun disukai pelanggan. Kebanyakan, pelanggan menyukai pijatannya yang ouch…ah…uuuh…mmmhhmmm.. . Hush, jangan dikira salon plus-plus ya… . Pijatan yang saya maksud adalah pijatan creambathnya, bukan “massage” seperti yang dilakukan oleh oknum prostitusi berkedok salon yang bertebaran di Kota Pelajar ini.

Singkat cerita, Inah adalah salah satu anugerah dari Tuhan yang patut saya syukuri. Saya sangat terbantu dengan keberadaan Inah di salon saya. Tak dapat dipungkiri, Inah adalah perwujudan hukum tabur tuai yang saya percayai sejak dulu.

Saya pernah mengambil pekerjaan paruh waktu ketika kuliah dulu. Tanpa bermaksud memuji diri sendiri, saya ini termasuk karyawan yang memiliki sense of belonging yang tinggi pada perusahaan dimana saya bekerja. Saya merasa turut memiliki perusahaan itu sehingga sebisa mungkin, saya melakukan pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya, seolah perusahaan itu adalah milik saya. Prinsip saya saat itu adalah bahwa bila saya kelak memiliki karyawan, saya memiliki karyawan yang seperti saya. Karyawan yang mau bekerja dengan sebaik-baiknya seolah perusahaan itu adalah miliknya.

Demikian halnya ketika saya bekerja di salon milik orang lain. Saya bekerja sebaik yang saya bisa. Saya mau melayani klien dengan baik sebaik-baiknya. Rajin menjaga kebersihan dan kerapian salon. Tidak menyalahgunakan kebebasan dan kepercayaan yang diberikan atasan kepada saya. Menaruh hormat pada atasan tanpa menjilat. Lebih banyak mendengarkan daripada ikut bergosip dengan rekan kerja. Sekali lagi, saya melakukan itu semua karena saya merasa yakin bila saya akan menuai apa yang saya tabur. Saya akan mendapat karyawan yang seperti saya, bila kelak saya membuka usaha sendiri dan memiliki karyawan.

Alhasil, hukum itu memang berlaku. Saya telah diberi kemampuan oleh Tuhan untuk bisa membuka usaha sendiri. Yah, walau bukan milik saya perseorangan, namun kendali keseluruhan operasional dan sistem manajerial ada pada saya, termasuk urusan menerima dan mengeluarkan karyawan. Tuhan membuktikan bahwa hukumNya adalah tetap. Ia tak pernah ingkar janji. Ini terbukti dari datangnya Inah kepada saya, tanpa harus mencari. Dan Inah adalah orang yang menyerupai saya dalam bekerja. Kami memiliki banyak kesamaan dalam pola dan cara kerja, sikap dan tingkah laku. It’s so sweet, isn’t it?

Genap setahun sudah Inah bekerja pada saya. Satu karyawan terlama yang pernah bekerja pada saya. Akan tetapi, Tuhan menghendaki Inah sudah cukup masa untuk bekerja pada saya. Inah harus pergi berpindah ke salon milik kerabatnya. Inah berhutang budi pada kerabatnya itu sehingga ia tak kuasa menolak permintaan kerabatnya. Sedih karena Inah adalah pribadi yang istimewa. Inah adalah satu diantara seribu, bilamanakah aku akan mendapatkan karyawan seperti itu lagi?

Ah, tunggu dulu. Ini bukan a little true story with sad-ending kok. Tuhan memang tak terduga dan tak dapat dinyana. Dia begitu baik sehingga Ia telah menyediakan satu pribadi yang tidak jauh berbeda dengan Inah. Sebut saja namanya Intan. Dia pernah bekerja pada saya sebelumnya, hanya saja karena orangtuanya sakit, ia harus keluar dari pekerjaannya. Dan kini setelah orangtuanya membaik, ia membutuhkan pekerjaannya kembali.

Intan datang di saat yang tepat, lagi-lagi, tanpa saya harus mencari. Intan datang di saat ia membutuhkan pekerjaan, di saat Inah pergi, di saat saya membutuhkan karyawan pengganti Inah. Dan apakah ini bukan bukti bahwa Tuhan mengasihi umatNya yang takut akan Dia? Ooouu…Inilah salah satu bukti nyata bahwa Dia sungguh mengasihi umatNya yang takut akan Dia, yang mengandalkanNya, yang mematuhi hukum-hukumNya, yang menaruh harapannya padaNya.

Intan adalah pengganti yang sepadan dengan Inah. Ia bekerja dengan hati. Tidak bekerja demi uang semata. Ia takut bahkan sangat takut berbuat kesalahan sehingga sedikit-sedikit meminta persetujuan pada saya. Ah, tak apa. Itu tanda bahwa ia adalah orang yang jujur, tidak sok pintar walau telah berpengalaman, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:22-23)

Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah kamu juga mempunyai Tuan di sorga. Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur (Kolose 4:1-2)

2 komentar:

  1. Mampir :)
    Rencana-Nya selalu indah ya.Nice story,Kak.Gbu

     
  2. Welcome Sist'

    Thanks for coming.

    Ya, rencana-Nya selalu indah. Ini juga yang disebut segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Jbu.. .

     

Poskan Komentar