For Two are Better than One

Salam damai sejahtera dalam kasih Kristus,

Terpujilah Allah Bapa dan Yesus Kristus Tuhan. Kemuliaan hanya bagi Dia, dahulu, sekarang, esok, dan selama-lamanya.

I’m back. Genap tiga minggu, saya berbulan madu dengan perempuan ini. Kami bercinta bersama Tuhan. Keajaiban demi keajaiban terjadi. Perbuatan tanganNya sungguh ajaib. Saya mengalamiNya. Kami mengalamiNya. Kami bercinta denganNya. Setiap hari tidaklah sama. Segala sesuatu indah pada waktuNya, tak selalu berarti lama. Kami tidak mendapat malu oleh karena iman kami. Tuhan membawa kami pada ketinggian itu. Kami hendak bersaksi atas kemuliaan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus yang dinyatakan atas kami.

Dear pembaca, saya telah mengalami apa yang namanya jatuh cinta, untuk kemudian naik cinta, bersama seorang perempuan terindah dari Allah untuk saya. Saya tidak mencari perempuan ini. Saya tidak memintanya secara khusus dalam doa-doa saya kepada Tuhan. Begitu pula dengan perempuan ini. Dia tidak mencari saya, tetapi saya boleh bermegah di dalam Tuhan, bahwa saya adalah perempuan baginya, terindah dari Allah untuknya. Saya adalah jawaban baginya atas doa-doanya.

Terlalu banyak kisah. Terlalu banyak cerita. Terlalu banyak kebenaran. Terlalu banyak ketidakterbatasan. Aku benci keterbatasanku yang tidak bisa menceritakan ketidakterbatasanNya. Tetapi aku mau setia. Aku hendak bersaksi atas perbuatan tanganNya yang ajaib. Kali ini aku membawa perempuanku.

Perempuanku bernama Vie. Kami berselisih usia 13 tahun. Ketika kami dipertemukan Tuhan, dia berusia 38 tahun dan saya 25 tahun. Saya adalah ke empatnya. Dan dia adalah pertama saya. Saya meminta pada Tuhan agar saya adalah yang terakhir baginya, dan dia adalah pertama sekaligus terakhir bagi saya. Kami telah berkomitmen di hadapan Kristus sehingga apapun yang terjadi atas kami adalah kehendak Kristus yang jadi atas kami.

Hubungan kami adalah hubungan yang diawali dengan kasih masing-masing kami kepada Kristus. Kristus-lah yang “mempertemukan” kami. Selanjutnya, kami justru mendekat padaNya, bukan menjauh. Kami memiliki kerinduan yang sama untuk memuliakanNya. Banyak kesamaan diantara kami yang didasarkan atas satu kebenaran, yakni mengasihi Tuhan. Cinta Tuhan. Takut akan Tuhan.

Jika cinta kami bukan dari Allah, maka kami tentu telah menjauh dariNya, untuk kemudian binasa. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Kami mendekat padaNya. Kami naik cinta bersamaNya. Kami disempurnakanNya tiap-tiap hari dengan cara yang indah. Maka kami boleh bermegah di dalam Tuhan, bahwa kasih di antara kami adalah kasih karunia Allah yang tidak akan binasa, pun membinasakan kami. Kami menempuh jalan naikNya, bukan jalan turun. Kian Damai, Kian Cinta, Kian Kasih. Dengan demikian, kami boleh bermegah di dalam Tuhan. Dan kami tidak akan mendapat malu. Itu janjiNya.

Dear pembaca yang kukasihi, aku tidak bisa banyak cerita saat ini. Batasku membatasiNya. Bukan mauku. Tapi cintaNya tak kan luput dariku dan darimu. Ia tak bisa menyangkal diriNya bahwa Ia adalah Kasih.

Inilah kesaksianku. Aku telah mendapat pendamping hidup yang sepadan. Kami telah “bertemu”, namun kami belum bertemu. Kami telah “bersatu”, namun kami belum bersatu. Kami bercinta di alam roh, namun dalam Roh yang Kudus, yakni Roh Kudus. Dan kami hidup oleh iman kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus Tuhan. Kami hidup dalam Tuhan.

Vie adalah perempuan terindah dari Allah untukku, melalui perantaraan putraNya, Yesus Kristus. She’s the one, sent from God above, for me to love, and be loved. For two are better than one, then we become one, by The One, Jesus Christ. Amen.

Sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya. Bukan karena perbuatanku, tapi kehendak Kristus yang jadi atasku dan atasmu. Aku mengasihiNya, aku mengasihimu. Karena Dia terlebih dahulu mengasihiku dan mengasihimu.

8 komentar:

  1. For Two are Better than One....Amin...
    Aku terberkati..terlengkapi...karena engkau dihadirkan Allah bagiku....jawaban bagi doa-doaku...
    Aku mencintaimu..dan akan terus mencintaimu...dengan cinta yg kian naik dari sejak awal Dia menumbuhkannya di hatiku...dan mengarahkannya padamu....

    "Vie"

     
  2. ...

    ...

    ...

    ;) :) -> Vie & Elize, The Winning Team for The Hope of Glory.

    ;) :) -> Vie & Elize, The Winner of "Blessed Couple of The Years" Award, by His Grace.

    ...

    ...

    ...

    I love u, Vie. Since Christ in you... .

     
  3. woah... congratz for u both. hope ur love everlasting ;)

     
  4. Congratz ya ;)

    Semoga langgeng senantiasa :d

     
  5. saya yakin anda tidak pernah membaca al-qur'an, kitab suci ummat islam, dan pasti tidak berani karena selama ini gereja mendoktrin anda untuk tidak membacanya. padahal iman yang sebenarnya adalah, iman yang diperoleh dengan jalan merdeka, untuk menemukan kebenaran. betapa banyak orang telah merasa sampai kepada kebenaran sesungguhnya, padahal ia hanya beriman karena dipahsa, dicekoki, didoktrin. ketahuilah, kebenaran itu dapat diraih dengan keberanian untuk membandingkan sesuatu yang kita yakini dengan apa yang diyakini orang lain.

     
  6. dear Shanz,

    Thankyou very much. Di bumi tidak ada yang abadi. Demikian pula cinta kami di bumi, tidak akan abadi. Namun karena Kristus, maka cinta setiap orang yang percaya kepadaNya, akan berada dalam keabadian, everlasting life, eternal life. Let's we stand up for Love, then no one will get left behind.

     
  7. dear Jo, yang kami cintai

    Terimakasih banyak... Biarlah Jo dan Mei senantiasa diberkati Tuhan dalam kasih yang kian bertambah, di bumi, hingga sempurna untuk di Sorga.

     
  8. Yth. Syahadah

    Saya pernah membaca Al-Qur'an, Kitab Suci Ummat Islam. Namun membaca yang sebenarnya dalam arti mempelajari dengan sungguh, baik untuk membandingkan sesuatu yang saya yakini dengan apa yang diyakini orang lain atau untuk tujuan lain, saya belum pernah. Dan gereja tidak pernah mendoktrin saya untuk tidak membaca Al-Qur'an.

    Ya, iman yang sebenarnya adalah iman yang diperoleh dengan jalan merdeka, untuk menemukan kebenaran. Dan saya telah menempuh jalan merdeka itu. Kebenaran yang saya imani adalah kebenaran yang saya peroleh melalui pembacaan Alkitab setiap hari, bukan karena dipaksa, dicekoki, didoktrin, atau bentuk pemaksaan lain oleh oknum manapun. Ketahuilah bahwa orang-orang di gereja yg saya ikuti, memandang bahwa homoseksualitas itu dosa. Itu pula yang dulu menyebabkan saya berkutat dalam konflik diri yang berputar-putar selama hampir 25 tahun hidup saya sebagai orang Kristen. Saya memandang Tuhan sebagai penghukum dan hal itu justru membuat saya menjauh dariNya, hanya karena kelesbianan saya. Ketika saya menemukan kebenaran Alkitabiah melalui pembacaan Alkitab setiap hari secara sendiri itu, saya merasa telah didamaikan dan dimerdekakan sehingga saya mengalami sukacita yang penuh. Saya merasa dibebaskan dari perasaan bersalah dan perasaan berdosa dengan kelesbianan saya sehingga saya boleh percaya bahwa homoseksualitas bukanlah sebuah dosa. Setelah mengetahui kebenaran Alkitabiah itu, hidup saya berubah secara radikal. Saya semakin mendekat padaNya, bukan menjauhiNya. Saya merasa bahwa Tuhan mencintai dan mengasihi saya sehingga saya begitu ingin membalas cinta dan kasihNya kepada saya dengan segenap akal budi, hati, dan jiwa; dengan segenap apa yang ada pada saya oleh karena Dia. Dan saya telah sampai pada pemahaman bahwa iman saya bukan diperoleh karena perbuatan saya, tetapi oleh kasih karunia Allah, Pencipta Langit Bumi beserta isinya, yang dianugerahkan kepada saya dan banyak orang. Dengan demikian, saya tidak boleh bermegah diri seolah-olah iman itu adalah karena perbuatan saya.

    Berkaitan dengan keberanian untuk membandingkan sesuatu yang kita yakini dengan apa yang diyakini orang lain, ya, saya sudah melakukannya, dengan cara membaca tulisan-tulisan spiritual religius serta interaksi komunikatif dengan orang lain yang seiman dan tidak seiman. Dan yang saya peroleh adalah perasaan stagnan, keragu-raguan, terombang-ambing, dan bahkan sakit hati yang amat sangat oleh karena saudara seiman. Dari pengalaman itu, saya menjadi tahu kemana saya harus berpulang. Kepada Tuhan. Melalui jalan merdeka seperti yang Anda maksud.

    Terimakasih Syahadah, senang sekali Sang Pencipta kita mempertemukan kita di sini. Saya akan senang sekali jika mendapat kesempatan untuk berdiskusi dengan Anda. Bukan berdebat, tetapi berbagi kasih dari Sang Pencipta, antar sesama manusia. Salam perdamaian... .

     

Poskan Komentar