Comparation
Bapa…
Aku bersyukur dan bersuka
Karena tangis dan lukaku
Adalah sesahMu yang menyukakan aku
Bukti cintaMu yang tak terbatas
Padaku, pada kami, pada semua
Bapa…
Perempuan yang Kau beri padaku
Telah melukai hatiku
Karena ternyata aku terlebih dahulu
Melukai hatinya
Dan hari ini aku tahu
Sakit kami dan luka kami
Adalah Engkau yang tengah menyempurnakan kami
Bapa…
Dia tidak suka dibanding-bandingkan,
pun membanding-bandingkan
Tetapi aku suka
Mengapa Bapa?
Karena Engkau
Baiklah Bapa…
Aku mau padaMu
Aku mau dunia tahu
Karena aku tidak mau berselubung muka
Aku akan tetap membanding-bandingkan
Perempuanku dengan mantanku
Agar aku tahu, agar dia tahu, agar dunia tahu
Bahwa Engkaulah yang membuat perbedaan
Hanya karena Engkau
Sebelum Engkau jadi nomor satuku
Engkau hadirkan pria dalam hidupku
Aku menerimanya dengan kasih pura-pura
Karena aku takut dan khawatir akan masa depanku
Karena aku takut padaMu karena kecenderunganku
Karena aku berpikir, aku takkan berdosa jika dengan laki-laki
Karena aku berpikir, aku akan normal di mata dunia
Aku bermanis muka di hadapnya
Seolah bersuka bersamanya
Padahal sembilu dan gerutu di hatiku
Sesudah Engkau jadi nomor satuku
Engkau hadirkan perempuan dalam hidupku
Aku menerimanya dengan sukacita dan syukur yang tiada terukur
Karena Engkaulah yang mendatangkannya untukku
Ia datang setelah aku di dalam Engkau dengan sungguh
Perempuan ini mendatangkan sukacita dan damai sejahtera di hatiku
Membuatku merasakan cinta
Aku tahu arti cinta
Aku merasakan cinta
Karena Engkau…karena cintanya adalah Cinta
Sebelum Engkau jadi nomor satuku
Pria itu mencintaiku dengan sungguh
Aku merasa menjadi nomor satu di hatinya dan Engkau nomor kesekian di hatinya
Ia memberi hadiah-hadiah teristimewa untukku
Dalam rupa dan harga yang mewah di mataku
Aku berkelimpahan, aku dimanjakan olehnya
Tetapi hatiku…kosong dan sepi….
Perasaan suka yang hanya sementara
Perasaan suka sesaat untuk kembali pada rana dalam jalan kesendirianku
Setelah Engkau jadi nomor satuku
Perempuan ini mencintaiku dengan sungguh
Aku merasa menjadi nomor dua di hatinya dan Engkau nomor satu di hatinya
Ia memberi “hadiah-hadiah” teristimewa untukku
Dalam “rupa” dan “harga” yang tiada terhitung di mataku
Aku “berkelimpahan,” aku “dimanjakan” olehnya
Hatiku terisi penuh sukacita dan kedamaian
Perasaan suka yang terus-menerus
Perasaan suka untuk menanjak dalam jalan naik cintaMu
Engkau juga memampukan aku untuk sampai pada titik nol
Titik dimana aku bisa tidak mencintainya sama sekali
Titik dimana aku tidak takut kehilangan dia
Titik dimana aku tidak takut Engkau mengambilnya dariku
Karena Engkau memampukan aku
Untuk menempatkan Engkau terus tetap menjadi nomor satu dalamku
Aku mencintaiMu lebih dari cintaku padanya
Dengan demikian aku bersuka, karena Engkau tidak mengambilnya dariku
Tetapi Engkau memperkuat cinta kami kepadaMu
Engkau nyatakan kuasaMu atas kami
Tiada cinta yang dapat mengalahkan Cinta
Hanya Cinta yang dapat menguatkan cinta
Sebelum Engkau jadi nomor satuku
Pria itu penuh perhatian padaku
Ia setia dengan pesan, nasehat, dan pengingat, tanda pedulinya padaku
Tapi aku jengah, aku bosan, dan aku sebal
Setelah Engkau jadi nomor satuku
Perempuan ini penuh perhatian padaku
Ia setia dengan pesan, nasehat, teguran, didikan, ingatan, dan laku lain tanda kepedulian penuh cintanya padaku
Tapi aku tetap degil karena aku hanya kadang-kadang
Tapi aku juga menyukainya, aku terbangun karenanya, dan aku menjadi cinta pada diriku
Aku menjadi lebih peduli pada kesehatanku
Aku menjadi lebih peduli pada bait Allah
Aku bahagia karena laku kepedulianku terhadapnya
Begitu berharga baginya
Begitu membangun dirinya
Begitu dianutnya
Ia memberiku perubahan lebih dari yang aku minta. Ia berhenti meminum kopi hitam, padahal aku hanya memintanya untuk mengurangi karena dia adalah pecandu kopi kelas berat, tentulah sulit baginya untuk lepas dari kopi hitam. Ia mau minum teh hijau, padahal aku tidak pernah lagi meminumnya dan memberi saran padanya atas dasar pengetahuanku tentang kesehatan. Ia bahkan meminum susu kedelai, yang baik untuk bait Allahnya. Ia mau mengkonsumsi sayuran, padahal ia tidak suka sayuran. Ia suka diatur olehku, sementara aku tidak suka diatur, dan aku bahagia karena ia tidak mengatur dan mengekangku.
Perempuan ini begitu menyukakan hatiku dengan kata-kataku yang diturutinya. Ia tak hanya di mulut, tapi juga di laku. Dan lakunya, membuatku lebih menghargai segala bentuk kepeduliannya. Membuatku tak hanya di mulut, tapi juga di laku. Betapa aku terbangun olehnya, karena cintanya berasal dari Cinta.
Sebelum Engkau jadi nomor satuku
Aku tidak berahi pada makhluk ciptaanMu yang Engkau sebut laki-laki. Aku mati-matian menghindari ciuman pria yang dahulu menjadi pacarku. Pria itu kerap memberiku sex education dengan tetap penuh respek, melalui diskusi, buku-buku, dan video.
Katanya, oral seks itu harus, untuk variasi agar tidak bosan. Gaya bercinta kita esok, harus bervariasi, untuk kelangsungan rumah tangga kita. Malam pertama kita harus direkam dalam video, untuk kenangan di hari tua kita. Kalau kamu besok mengulum penisku, harus hati-hati, pelan-pelan, dan ada tekniknya agar jangan sampai kesakitan.
Katanya, wah, kamu besok pasti kalau lagi ML, suara kamu pasti begini, “aahhhh” seperti merintih kesakitan, tapi sakitnya itu nikmat gitu lho.
Oh Bapa, aku jijik padanya, aku jijik dengannya, bahkan aku tak sanggup membayangkan bila kelak harus bersetubuh dengannya. Aku tidak rela daging bernama penis itu menunjam liang vaginaku. Aku tidak rela daging bernama penis itu ada dalam kulumku. Aku tidak sudi dengan seks yang tidak wajar karena pria ini gemar akan rupa-rupa percabulan. Video porno berkeping-keping, pornografi dalam gigabyte komputernya, dalam ponselnya. Entah apa yang ada dalam otaknya.
Setelah Engkau jadi nomor satuku
Aku berahi pada makhluk ciptaanMu, perempuan yang Engkau datangkan untukku. Aku begitu ingin disentuhnya, menyerahkan diriku padanya, bersatu dengannya, aku ingin ia ada dalamku, aku ada dalamnya. Belum pernah rasa ini ada sebelumnya. Aku menafsui tubuh perempuan yang Engkau datangkan padaku. Aku berahi padanya, aku mengingininya. Liangku basah karena “kecupannya”, “sentuhannya”, “satu tubuhnya dengan tubuhku”. Aku bahkan telah mengalami letupan-letupan di otakku. Engkau membawaku pada ketinggian itu, melalui perempuan ini, tanpa aku menyentuh diriku sendiri.
She’s my first. “Ciuman pertamaku”, “Penyerahan keperawananku”, “Persetubuhan pertamaku”, “Orgasme pertamaku”. Aku bahagia, karena ia menyukai desahanku, rintihanku, deru nafasku, suaraku yang bisa membangkitkannya dan membawanya pada ketinggian itu senyatanya. Aku bahagia Bapa karena aku tidak lagi phobia terhadap seks. Hutan perawan memang memiliki pesona dan misterinya tersendiri, sehingga tak perlu dikuak dan disibak dengan peta lesbian erotica.
Perempuan ini memberiku sex education dengan penuh respek, rasa aman dan nyaman. Seks itu indah dan naluriah. Tanpa perlu video porno dan rupa-rupa percabulan. Seks yang berdasarkan cinta, bukan nafsu, tapi terkadang juga keduanya. Seks yang mendatangkan sukacita dan damai sejahtera jika dilakukan dalam kekudusan, karena kami orang-orang bebas, tiada zinah dan tiada cabul.
Katanya, aku akan memperlakukanmu bagai porselen, menyentuhmu dengan sangat halus. Aku tidak akan menyakitimu. Aku adalah orang yang konvensional sekali, aku mau sejajar, muka dengan muka. Aku akan memperlakukanmu dengan penuh respek. Tuhan mengijinkan kita menikmati seks karena kita melakukannya dalam kekudusan.
Oh Bapa, aku bersyukur sekali karena ia memiliki gaya bercinta yang konvensional. Aku bersyukur sekali karena aku nyaman bersamanya, aku rela padanya. Aku bersyukur karena aku tidak berdosa jika bersetubuh dengan perempuan ini, karena kami melakukannya di dalam Engkau, dengan cinta yang telah dikuduskan di dalam Engkau, sehingga kami tidak akan ditimpa kesusahan badani.
Sebelum Engkau jadi nomor satuku
Pria itu memberiku kado yang mewah di hari Valentine. Dahulu, dua kotak coklat dari luar negeri, yang maaf, aku tidak suka rasanya. Buku-buku tebal bestseller dengan nominal harga yang “wah” di mataku. Serta hadiah lain, yang maaf, aku tidak dapat mengingatnya. Terlalu banyak pemberian mewahnya untukku. Tetapi pemberiannya hanya mendatangkan suka sementara.
Aku tidak bahagia karena pemberiannya bukan dari keringatnya. Aku tidak bahagia karena pemberiannya membuatku seolah terbeli. Aku tidak bahagia karena aku semakin menampilkan kasih pura-pura padanya. Hatiku pilu, aku merasa keji yang tiada terperi. Karena kasihku adalah kasih dengan muka yang berselubung.
Setelah Engkau jadi nomor satuku
Perempuan ini memberiku kado yang adalah kado termewah sepanjang momen Valentine-ku. Sekotak coklat buatan industri rumah tangga, yang aku tak rela untuk memakannya, karena aku mau nyata dia selalu ada dalam nyataku. Dua buah buku yang mungkin tak seberapa di mata dunia, tetapi aku bahagia karena Engkau menunjukkan kualitas dirinya yang apa adanya, melalui tulisan tangannya di buku itu, tulisan tangan persembahan cintanya untukku. Ia juga memberiku sebuah cincin dari negeri asalnya, yang ternyata sebesar kelingkingnya, sebesar jari tengah kananku, semakin menunjukkan bahwa aku adalah l’il princess-nya.
Aku bahagia karena ia memberi dalam keadaan sulitnya sementara ini. Aku bahagia karena aku dapat merasakan cintanya melalui pemberiannya. Aku bahagia karena rasa itu nyata dan mendatangkan haru di hatiku. Aku terharu dengan ketulusan hatinya. Niatnya untuk memberi. Niatnya untuk membahagiakan aku. Sungguh aku bersuka cita oleh karena perbuatan tanganMu yang ajaib ya Bapa, melalui perempuan ini.
Oh Bapa, Engkau tahu, selembar fotonya membuatnya semakin nyata bagiku. Perempuan tampan dengan mata teduh yang penuh ketulusan. Mata yang sangat nyaris simetris, tanda hati dan laku yang relatif konsisten sepanjang masanya. Mata yang membuatku semakin yakin bahwa perempuan ini adalah yang dari Engkau untukku. Dan aku begitu menyukai ketampanannya, gaya maskulinnya, tebal alisnya, bibir tanda good kisser-nya, warna kulitnya, and Oh! She looks so gentle with her watch. Bapa, aku percaya, suatu saat nanti, Engkau akan puaskan rasa gatal tanganku untuk memotong rambutnya yang tebal itu. Bapa, dia lebih tampan kalau berpotongan rambut pendek dan rapi.
Kado Valentine darinya membuat perempuan ini semakin nyata bagiku. Ia tak lagi maya dalam batas gambar, webcam, dan suara. Tapi kian nyata karena sebagian nyata dia telah sampai pada nyataku. Engkau semakin menguatkan aku, meyakinkan aku, bahwa perempuan ini adalah perempuan nyata, anugerah terindah dariMu untukku, bagiku dicintai dan mencintai dalam Cinta yang adalah Engkau.
Perempuan ini adalah perempuan maskulin yang membuatku merasa terlindungi, tenang teduh bersamanya, penuh kelembutan dan ketulusan, penuh respek dan tahu cara memperlakukan perempuan. Perempuan ini adalah perempuan dengan hati yang tampan sekaligus cantik, halus, lembut, dan tulus. Hatinya juga sekaligus penuh luka, mudah terluka, serta mudah hancur, dan remuk redam. Namun aku tahu Bapa, Engkau akan terus menyempurnakannya, menyempurnakan aku juga, sampai kami serupa dengan Engkau.
Perempuan ini adalah perempuan setia. Setia pada Cinta dan cinta. Aku mau setia pada Cinta dan cinta. Sebab Engkau adalah setia.
Wahai Vie, kekasihku, pendamping sepadanku, anugerah terindah dari Allah untukku, aku meminta kepada Bapa, agar Ia menanamkan ini kuat-kuat dalam loh hatimu: engkau nyata bagiku, engkau cukup bagiku. Ketika aku membanding-bandingkanmu dengan mantanku, sesungguhnya aku ingin engkau tahu bahwa engkau boleh bermegah dalam Tuhan, bahwa engkaulah yang terbaik untukku, karena engkau didatangkan oleh Tuhan setelah aku bersungguh-sungguh di dalam Tuhan dan Tuhan ada dalamku. Tak sepantasnya lakuku itu meruntuhkanmu, sebaliknya, aku ingin membangun dirimu. Tetapi aku tak bisa. Karena yang bisa membangun dirimu adalah Bapa kita, Yesus Kristus.
Aku suka dibanding-bandingkan, karena aku boleh bermegah di dalam Tuhan, bahwa akulah jawaban Bapa atas doa-doamu, bahwa ada perempuan sepertimu: pecinta perempuan yang sungguh mengasihi Tuhan. Manusiaku membutuhkan pengakuan dan aku suka memberi pengakuan. Tetapi aku mau, itu semua karena Bapa kita. Dan engkau tahu? Aku bahagia karena aku boleh merasa bahwa aku adalah terindah dari Bapa untukmu. Aku bahagia karena aku adalah perempuan termuda yang pernah engkau punya. Pertamamu 7 tahun lebih muda darimu, keduamu 11 tahun, ketigamu 7 tahun, dan aku, keempatmu 13 tahun. Aku bangga bila aku bisa menjadi kebanggaanmu. Bapa beri terbaik bagi mereka yang sungguh mengasihi Dia, setia padaNya, dan menaruh harap kepadaNya. Dan pengharapan kepadaNya tidak pernah mengecewakan, melainkan penuh kejutan. Aku punya lesung pipit, bukankah sosok seperti itu adalah impianmu? Malahan, kau diberiNya lebih: ternyata tubuhku kecil, wajahku manis, aku manja dan usil, aku tinggi dan muda, dan itu menyukakanmu, bukan? "Kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan," katamu dulu.
Kau begitu kaget saat kali pertama mendengar suaraku yang “femme banget”, jauh dari bayanganmu semula saat kau melihat diriku dalam batas kata dan kalimat. Sayang, saat itu kau begitu sopan dan mampu membuatku nyaman hingga aku menyerahkan diri padamu, dengan memberi nomor telepon bisnisku dan meneleponmu terlebih dahulu. Bapa-lah yang meyakinkanku bahwa nomorku aman dalam genggamanmu. Dan kau tahu sayang, kau desirkan hatiku lebih kencang ketika aku mendengar suara berat paraumu. Batinku berkata, "Ya Tuhan, keren banget suaranya." Mataku membelalak dan mulutku menganga saat pertama kali aku mendengar suaramu. Aku begitu menyukai suaramu. Itu adalah kejutan yang menyenangkan pula bagiku.
Sejak kita adalah sepadan, rentang usia biologis kita yang sangat jauh terpaut, bukan menjadi masalah. Itu bukan sesuatu hal yang mendatangkan pesimisme, kesedihan, dan kekecewaan. Usia mental jauh lebih penting. Dan usia rohani, adalah yang terpenting. Kita sepadan, bukankah itu berarti kau sepadan dengan gadis usia 25, jiwa mudamu sepadan dengan usia 25? Aku sepadan dengan perempuan berusia 38, kedewasaanku sepadan dengan usia 38. Banyak makna dan arti dari sepadan dalam Tuhan. Kadang aku sebijak dan serohani 9 tahun usia rohanimu. Kadang kau harus dinyalakan kembali dalam kasih mula-mula seperti dalam 5 bulan usia rohaniku. Kadang aku harus dikuatkan, ditopang, diteguhkan oleh perempuan sepertimu yang telah memiliki 9 tahun usia rohani.
Seiring kita saling mengenal, kita semakin mengenalNya. Bapa kita adalah Bapa yang baik. RancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Ia memberi lebih dari yang kita minta. Ia memberi kejutan yang tak terduga. Banyak kesamaan di antara kita yang tersibak seiring kita saling mengenal satu sama lain, yang membuat kita semakin yakin bahwa kita memang telah ditetapkanNya sejak semula untuk menjadi satu, untuk tujuan yang telah Ia tetapkan sejak semula: Kesamaan visi misi kita untuk memuliakan Dia.
Maka kita dipertemukan dan dipersatukan olehNya. Kau bagai belahan jiwaku. Aku bagai belahan jiwamu. Kau adalah aku. Aku adalah engkau. Aku dapat merasakanmu. Kau dapat merasakanku. Kita peka satu sama lain. Dan itu karena campur tangan Bapa dalam hubungan kita, karena kita mau melibatkanNya dalam hubungan kita.
Sayang, aku menulis semuanya ini untuk Tuhan, untukmu, untukku, untuk dunia. Bukan agar kita bermegah diri. Tetapi aku ingin agar nama Yesus yang dipermuliakan di atas bumi. Aku ingin engkau tahu bahwa engkau adalah cukup bagiku. Ketika aku membanding-bandingkanmu, itu karena aku cinta padamu, engkau bukan kesalahan. Itu adalah penegasan, pengakuan, dan pembuktian bahwa pendamping sepadanku ternyata adalah perempuan, yaitu engkau, yang didatangkan Tuhan untukku. Dan pendamping yang dari Tuhan lebih baik, bahkan terbaik bagiku, sebab aku mengasihi Dia dengan sungguh, setelah Dia terlebih dahulu mengasihiku. Maafkan aku telah melukai hatimu. Aku tak mampu memulihkan luka itu. Hanya Bapa yang sanggup melakukannya.
Sekiranya tulisan ini tidak menjadi kenanmu, maafkan aku lagi. Aku mencintai Tuhan, sama sepertimu. Aku mau banyak orang menjadi lebih cinta pada Tuhan. Tuhan telah bermurah hati padaku sehingga aku hendak bersaksi bahwa ada perbedaan nyata antara hidup bersungguh-sungguh di dalam Tuhan dan hidup yang tidak bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Aku telah mengalamiNya. Aku telah membuktikanNya. Kita telah mengalamiNya. Kita telah membuktikanNya. Biarlah mereka di luar sana menjadi kuat, menjadi berbalik kepadaNya, menjadi kian cinta padaNya, dan mengalamiNya lebih lagi..lagi..dan lagi... .
Semua ini berawal dari Kristus, demikian pula Ia akan meneruskannya. Kita telah ada dalam Dia. Kita akan terus ada dalam jalan naikNya. Impian kita tak akan hancur, selama kita saling menjaga, saling menopang, saling setia menjaga nyala api cinta dalam nama Yesus. Tak ada yang dapat memisahkan kita, selain daripada Kristus yang telah menyatukan kita. Aku tak akan mengusahakan perpecahan, perpisahan, dan perceraian karena aku timpang tanpamu, sejak kita dua jadi satu. Aku tak akan mundur, aku tak akan menoleh ke belakang, aku tak akan menyimpang ke kiri dan ke kanan. Mari kita setia, sampai garis akhir, untuk meraih mahkota kehidupan itu. Kristuslah yang akan memampukanmu dan memampukanku untuk itu.
Kita tak selalu bahagia. Kita tak selalu dalam tawa dan canda. Kita tak selalu dalam kasih mesra dan bara cinta. Ada duka lara, tangis, dan nestapa. Tetapi kita boleh bersukacita, karena itu semua adalah proses Bapa menyempurnakan masing-masing kita, yang telah disatukanNya, untuk bersatu denganNya. Mari terus berdoa dan berjaga-jaga, bertekun dan bersetia dalam laku iman kita. Terus tambah-tambahkan cinta kita padaNya karena Bapa telah terlebih dahulu menambah-nambahkan cintaNya pada kita. Aku mencintaiMu…aku mencintaimu…aku mencintai kalian semua…
Aku akan tetap menjadi diriku, menampilkan diriku apa adanya di hadapanmu. Aku tak mau bermanis mulut untuk menyukakan hatimu. Aku tak mau menampilkan perilaku manipulatif. Aku tak mau menampilkan kasih pura-pura. Aku tak mau berselubung muka. Aku memperlakukanmu sebagaimana aku ingin diperlakukan. Dan jika itu mendatangkan luka pada hatimu, aku boleh percaya bahwa itu adalah proses Bapa menyempurnakanmu. Juga menyempurnakanku, karena sakitmu adalah sakitku.
Sejak Kristus dalam kita, sesahNya adalah bahagia kita. SesahNya adalah ketinggian yang lebih lagi. Tangis kita akan digantikanNya dengan tangis sukacita. Kita telah mengalaminya berkali-kali. Tak pelak lagi, kita akan meraih impian dan harapan kita. Ia tak pernah mengecewakan. Ia tak pernah ingkar janji. Ia adalah setia. Ia tak dapat menyangkal diriNya. Mari kita setia, sebab Ia adalah setia. Ia ada dalam kita, maka kita akan menjadi kian damai dalam Kristus.
Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambarNya, dalam kemuliaan yang semakin besar.
(II Korintus 3:18)
Posted in: on Minggu, Februari 22, 2009 at di 17:35


Poskan Komentar