eS-E..se.. eM-U..mu.. Te..

Salam damai sejahtera dalam kasih Kristus,

Dear pembaca, mari santai sejenak. Kali ini saya ingin bercerita tentang kejadian yang mungkin sepele, tapi sungguh-sungguh terjadi. Dan mungkin Anda juga pernah punya kisah yang hampir sama. Apakah itu? eS-E..se.. eM-U..mu.. Te.. SEMUT..

Ceritanya begini. Suatu hari adik saya menaruh ponselnya di atas organ. Kira-kira selang beberapa jam, dia mengambilnya kembali untuk membaca SMS. Ketika memegang ponselnya, dia dikejutkan dengan beberapa semut yang keluar dari lubang speaker. “Hahh, handphone-ku dirubung semut,” katanya sambil setengah geli dan segera membersihkan ponselnya dari makhluk-makhluk kecil yang pasti juga ada di rumah Anda semua.

Seminggu kemudian, ketika sedang mengamat-amati ponselnya, adik saya dibuat heran dengan adanya satu ekor semut yang berjalan-jalan di balik layar ponselnya. Segera ia membongkar casing dan berusaha mengeluarkan si semut yang mungkin telah asyik ikut mendengar obrolan adik saya dengan pacarnya, atau turut membaca SMS-SMS mesra mereka. Hmm, rupanya si semut turut menjadi saksi hidup atas percintaan adik saya dengan pacarnya tuh. Bahagianya si semut…

Nah, setelah beberapa kali meniup-niup dan memastikan si semut sudah tidak ada lagi, adik saya memasang casing ponselnya kembali. Fiuffh…akhirnya… .

Eeh, kira-kira seminggu berikutnya, saya dikejutkan dengan suara ribut adik saya yang mengeluh, “Helahh…semut e ki isih ono to?!” (Helahh, semutnya tuh masih ada toh?!). Well, adik saya kembali melihat semut itu di dalam ponselnya yang dengan santainya berjalan-jalan kesana kian kemari. Lambat tapi pasti menyusuri layar ponsel di dalam casing. Hhhh…ngegemesyiiiiiiiiinnnnn!!!!!!

Lho, bukannya dulu sudah kamu bersihkan?” tanya saya.

Lha iya. Tapi dulu waktu aku bersihin tuh, aku ndak lihat semut e,” jawab adik, sambil meniup-niup ponselnya dan berguman tidak jelas.

Beberapa menit kemudian…

Horee… semut e udah keluar,” sorak adik saya yang ogah membuka casing ponselnya lagi dan memilih untuk menunggu si semut keluar sendiri.

Kok semutnya gak mati ya? Jadinya udah berapa lama tuh semut e di dalam handphone-mu?” tanya saya.

Udah lama lho. Ya mungkin dua mingguan-lah. Ho’o ya..kok ndak mati ya? Trus makannya gimana ya?” kata adik saya sambil masih mengamat-amati ponselnya.

“Mungkin dari sel-sel kulit mati manusia. Aku pernah lihat di TV kalau manusia mengelupaskan sel-sel kulit ari yang sudah mati dan rontok dengan sendirinya. Itu terlepas setiap hari dalam bentuk serpihan-serpihan yang sangat kecil-kecil. Nah, serpihan kulit ari yang mati itu menjadi makanan bagi kutu yang tersimpan dalam bantal-bantal dan kasur manusia. Aku pernah lihat di Oprah tuh. Yah, mungkin semutnya gak mati karena makan kulit ari kamu yang mati itu, dari kulit ari telingamu,” kata saya.

Hiiiiiiiiii….,” kata adik saya.

***

Well, pembaca… Semut ini adalah binatang kecil. Tapi satu saja keberadaannya, lebih dari cukup untuk membuat saya merasa terganggu, tidak nyaman, tidak aman, dan ingin segera memelitasnya (membunuhnya). Terlebih menjengkelkan, bila ia ada dalam segerombolan, serentetan yang walau berbaris rapi, tetap saja kalau jalan berkelok-kelok. Dan yang paling amat sangat menjengkelkan adalah bila koloni semut ini…PINDAHHHAAAANNN!!!! Aduuuhhhhh!!!! Buanyak banget. Mereka akan memenuhi dinding sambil berjalan membawa butir-butir putih itu…apalagi kalau bukan telur yang bakalan jadi semut lagi. Hah!!! Tambah banyak deeehh semut-semut yang sangat annoying itu!!!!

Hmm...itu dulu…sekarang…sekarang nih…udah beda cerita sejak Tuhan berhasil membuat saya kagum dengan semut (dan bahkan binatang lain yang membuat saya bereaksi hampir sama ketika melihatnya), tertulis dalam Amsal 30:24-28:

“Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan:

Semut, bangsa yang tidak kuat,
tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,

pelanduk, bangsa yang lemah,
tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu,

belalang, yang tidak mempunyai raja,
namun semuanya berbaris dengan teratur,

cicak yang dapat kautangkap dengan tangan,
tetapi yang juga ada di istana-istana raja.”



Ada satu lagi nih ayat Alkitab yang membuat saya merasa tertampar dan malu karena makhluk kuecil bernama semut, tertulis dalam Amsal 6:6-11:

Hai pemalas, pergilah kepada semut,
perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:

biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya,
ia menyediakan rotinya di musim panas,
dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.

Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?

“Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” –

Maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu,
Dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.


Wahh, malu aku malu…
Pada semut merah…
Yang berbaris di dinding…
Menatapku curiga…
Seakan penuh tanya…
“Kok kamu kalah rajin dibanding aku?”


Oh my God…memang sebagai wiraswastawati, saya jadi cenderung seenaknya dengan jam kerja. Saya cenderung tidak disiplin. Acap kali bangun siang. Ogah-ogahan ke salon. Tidur sebentar lagi. Mengantuk sebentar lagi. Melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring. Itulah salah satu faktor yang membuat kondisi finansial saya makin merosot setahun belakangan ini.

Kini, oleh karena kasih karuniaNya, saya telah bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Saya percaya bahwa tak lama lagi, kehidupan ekonomi saya akan berubah, karena usaha yang dikelola dalam manajemen Kristus. Bukan lagi dalam hikmat manusia saya, pun pengandalan diri dan kekuatan saya.

Saya harus belajar pada semut, yang walau tidak ada pemimpin, pengatur, atau penguasanya, ia menyediakan dan mengumpulkan makanannya di setiap waktu. Demikianlah juga saya, yang walau tidak ada boss, atasan, atau pemimpin di bumi, saya harus mendisiplinkan diri sendiri untuk bekerja dalam jam kerja yang wajar. Tuhanlah yang akan memampukan dan memimpin saya.

Okkey pembaca…kini setiap kali melihat semut, saya diingatkan untuk tidak malas, untuk tidak menyukai tidur, untuk rajin dan disiplin, untuk tekun, dan untuk bekerja keras dengan cerdas, di dalam Kristus. Saya tak lagi memelitasnya, tapi meniupnya agar segera menyingkir dari saya yang tetap merasa tidak aman kalau ada semut.

Ants has become my living reminder for not being lazy, but highly diligent, fully discipline, and hard working.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya. Sukacita dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Yesus Kristus Tuhan menyertai kamu sekalian. Jadilah bijak dengan hikmat yang dari TUHAN. Kiranya engkau kian damai dalam Kristus. Amin.

3 komentar:

  1. That's Amazing, honey....Allah kita memang ajaib dan luar biasa ya, binatang sekecil semut bisa dipergunakanNya untuk menegur kita, manusia, yg terkadang semena-mena thd semut2 itu...
    Nah, skrg kalo mulai malas-malasan lagi...nyanyiin aja..."..malu aku malu..pada semut merah...." hehe..

    ~Vie~

     
  2. Iya sayang...Allah kita memang ajaib dan luar biasa. Semut salah satunya dirancang untuk memalukan manusia dehh say, biar gak males. "Iiih, masak kalah sama semut!!!"

    Hmmm, tentang lagu jadul itu, tolong cariin MP3, ringtone, plus kode ringback tone-nya ya say. Biar ada digital reminder sekalian.. qkqkqkqkqk...

    Kalau masih gak mempan untuk memerangi kemalasanku, bawain aku selaksa koloni semut beserta sarangnya ya... Hiiii, ampun deh say, kagak mintaaaa.... Doain aja. Udah pasti mempan tuhhhh!!!!

     
  3. Sayang..biar aku aja yang nyanyiin buat kamu lagu jadul itu...khan I'm your life reminder tho...? Kalo aku yang kumat malesnya..gantian kamu yang nyanyiin, coz u r my life reminder 2...hehe..
    Tapi aku gak mau ah bawain kamu semut...aku gak tega yayangku dirubung semut..meskipun itu artinya kamu manis..tuing..tuing...
    Aku doain aja..kuasa doa melebihi segalanya khan?....doain aku juga yah sayang...

    ~Vie~

     

Poskan Komentar