Janji Tuhan yang Tergenapi

Terpujilah Allah Bapa dan Yesus Kristus Tuhan, oleh sebab janjiNya untuk mempertemukan kami, Vie dan Elize telah tergenapi pada 07 Maret 2009 yang lalu. Kami dipertemukan secara fisik, utuh dan nyata. Kami bertemu muka dengan muka, raga dengan raga. Kami akhirnya dipertemukan oleh Tuhan, di Kota Yogyakarta, setelah kami menjalin hubungan jarak jauh sejak akhir Desember tahun lalu.

Nyata bahwa Tuhan berkenan atas kami, sebab kami setia menunggu waktuNya untuk dipertemukan secara fisik. Kami setia dalam jam doa tengah malam kami, setia dalam doa dan saat teduh di pagi hari, setia dalam iman, pengharapan, dan kasih kepada Allah melalui Yesus Kristus, Pemersatu kami. Dan laku setia iman kami adalah kasih karunia Allah kepada kami karena Yesus Kristus, Pendamai kami.

Dear pembaca, kami menjalin hubungan jarak jauh. Vie tinggal di Jakarta dan saya, Elize, tinggal di Jogjakarta. “Pertemuan” pertama kami adalah melalui email dari Vie kepada saya yang berisi tentang salam perkenalan serta komentar singkatnya tentang blog saya, Kian Damai. Kami berkirim email sebatas permukaan saja dan hanya berlangsung beberapa kali. Hal itu terjadi pada pertengahan November 2008. Saat itu, hubungan kami sebatas antara penulis dan pembaca blog saja.

Hari-hari selanjutnya, kami sempat chatting beberapa kali dan saat itu Vie tengah berbahagia dengan partner barunya. Belakangan saya ketahui bahwa partner Vie itu ternyata salah satu sahabat maya saya yang telah saya kenal lebih dahulu sebelum saya mengenal Vie. Kami bertiga pun pernah online dalam waktu bersamaan, namun saya hanya chatting dengan Vie dan obrolan kami hanya berisi candaan dan lelucon yang membuat Vie tahu bahwa saya ternyata lucu juga. Tidak seserius dan sekaku tulisan-tulisan saya di blog.

Pada akhir Desember 2008, Tuhan mendatangkan Vie kembali pada saya melalui pesan offline-nya yang berisi tentang ajakan sharing tentang Firman Tuhan berkaitan dengan orang-orang seperti kita (lesbian). Saya pun menjawab bahwa saya akan senang sekali jika kita bisa sharing tentang kebenaran Firman Tuhan. Jika Tuhan menghendaki, maka Dia akan memberi waktu untuk kita bisa sharing. Kurang lebih, itulah jawaban saya saat itu.

Saat mendapat pesan offline yang pertama dari Vie, sebenarnya saya sudah tahu bahwa ia baru saja putus dari partner ketiganya. Mantan partner Vie-lah yang memberi tahu saya bahwa mereka sudah putus. Ia tidak memberitahu alasan pasti mengapa mereka putus. Namun demikian, saya salut pada mantan partner Vie karena ia tidak menjelek-jelekkan atau mengatakan keburukan Vie ketika saya menanyakan itu padanya. Sebaliknya, dia justru seperti mempromosikan Vie pada saya bahwa Vie adalah orang yang full of love.

Pesan offline Vie yang kedua mengatakan bahwa ia minta didoakan karena ia tengah terluka. Saya pun membalasnya dengan mengatakan bahwa saya akan mendoakannya agar Tuhan menyembuhkan luka hatinya. Balasan dari Vie selanjutnya berisi tentang ucapan terimakasih karena ia sudah membaik. Ia pun mengajak untuk bisa ngobrol (chat). Mendapat pesan itu, saya sempat merasa takut bahwa saya hanya menjadi obyek pelarian bagi Vie. Maka, saya berupaya menghindar darinya dengan mengatakan bahwa jika Tuhan menghendaki, maka Dia akan memberi kita waktu untuk bisa ngobrol. Lalu Vie membalas bahwa ia sungguh-sungguh meminta pada Tuhan agar Dia memberi kesempatan untuk kita bisa ngobrol.

Selanjutnya, saya membawanya dalam doa. Saya meminta agar Tuhan melindungi saya dari hal-hal yang bukan dari Tuhan. Kala itu, Tuhan memberi jawab pada saya dengan menanamkan Vie dalam pikiran saya sehingga saya terus-menerus memikirkan Vie. Tuhan pun menguatkan hati saya untuk meluangkan waktu agar bisa chatting dengan Vie. Semua itu terjadi tepat pada malam Natal. Saya sedang kebaktian malam Natal waktu saya mengirim pesan offline pada Vie yang mengatakan tanggal dan jam dimana saya bisa online.

Tanggal 26 Desember, kami sempat online. Namun karena saya sibuk dengan klien salon, maka kami hanya sempat chat sedikit saja. Baru keesokan harinya, 27 Desember 2008, Tuhan menyatakan perbuatan ajaibNya atas kami.

Kami membicarakan tentang diri kami masing-masing: usia, tinggi, berat badan, sekilas tentang penampakan fisik. Seperti orang yang baru kenalan. Kami tidak membicarakan masa lalu, misalnya mengungkit-ungkit hubungan Vie dengan mantan terakhirnya. Kami benar-benar seperti orang yang baru bertemu. Kami membicarakan tentang sifat, karakter, dan kepribadian kami masing-masing. Dari situlah kami mulai menemukan bahwa ternyata banyak sekali kesamaan diantara kami. Sama-sama berambut pendek. Sama-sama perempuan. Sama-sama pecinta perempuan. Sama-sama cinta Tuhan. Sama-sama mendamba kehidupan.

Obrolan kami mengalir begitu saja. Kami banyak berbicara tentang karakter masa lalu kami sebelum kami bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Dan dari situlah masing-masing kami seperti berkaca. Vie melihat dirinya dalam diri saya. Saya pun melihat diri saya dalam diri Vie. Kami pun bertukar foto via YM. Dan, yaah, begitulah, gambarnya pecah, kotak-kotak gak jelas. Tapi sungguh, pertama kali melihat foto Vie yang gak jelas itu, saya langsung suka padanya. Saya suka bahunya. Kesan saya yang pertama kali adalah dia andro banget, tapi lembut dan tampak dewasa, ada figur yang menenangkan. Vie pun melihat foto saya pecah-pecah dalam tampilan YM-nya. Hahaha…kami sama-sama gaptek, jadi tidak tahu kalau-kalau mungkin ada cara dimana foto bisa tampak lebih jelas atau software yang bisa dipakai untuk melihat foto dengan lebih jelas. Yang pasti, Vie mengatakan bahwa saya manis. (ehm..ehm..)

Kekakuan pun terpecahkan. Vie semakin tahu bahwa saya bisa bercanda, bahwa ternyata saya lucu juga. Well, para pembaca…saya sebenarnya seperti kebanyakan Anda juga…suka bercanda, memiliki sense of humor. Memang kecenderungan saya adalah serius pada mulanya. Setelah mengenal lebih jauh, lebih dekat, maka saya juga masih normal kok. Tidak seserius dan sekaku di blog. Mungkin karena gaya bahasa tulis saya yang sebisa mungkin menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka itu sekaligus mengesankan bahwa saya adalah pribadi yang formal, serius, dan kaku.

Okey, saya lanjutkan ceritanya. Setelah banyak bercanda, kami pun banyak berbicara tentang Tuhan. Dari situ masing-masing kami tahu bahwa kami adalah orang yang menaruh Tuhan di tempat tertinggi di hati kami. Dan kini kami tahu bahwa itu adalah kasih karunia Tuhan atas kami sehingga kami tidak berhak, tidak layak, tidak pantas untuk bermegah diri, melainkan boleh bermegah di dalam Tuhan. Ini semua adalah karena Tuhan.

Selanjutnya, waktu mendekati pukul 15:00. Vie harus ke gereja. Kala itu saya melihat bahwa Vie adalah orang baik. Ia sangat sopan dan rendah hati. Ia menanyakan kapan kita bisa ngobrol lagi. Entah mengapa saya menyerahkan diri padanya…eh, maksud saya, saya menyerahkan nomor handphone paling pribadi saya kepadanya. Sekaligus juga nomor handphone bisnis saya kepadanya. Dan segera setelahnya, saya malahan meneleponnya terlebih dahulu.

Bagai panah cupid yang tepat mengenai jantung saya, “jlebb…”, itulah kali kedua jantung saya berdetak sangat kencang, hati saya berdesir lebih kuat, ketika saya pertama kali mendengar suara Vie yang berat, parau, dan sangat maskulin. “Ya Tuhan, keren banget suaranya,” ucap batin saya kala itu. Dan ternyata, Vie juga merasakan hal yang kurang lebih sama ketika ia pertama kali mendengar suara saya. Katanya, suara saya femme banget. Mbak-mbak banget.

Pembaca…ternyata Vie mengira saya itu seorang gadis yang sangat tomboy, maskulin banget dengan suara yang pastinya juga maskulin ditandai dengan suara berat. Maklumlah, Vie mengenal saya pada mulanya dari tulisan-tulisan saya di Blog Kian Damai. Wah, saya jadi beranggapan bahwa pasti banyak pembaca yang mengira saya ini tomboy banget dan sangat laki-laki. Hmm, jadi pengen meluruskan. Memang saya pernah menulis bahwa saya memiliki dominansi maskulinitas dalam tubuh perempuan saya. Saya memang menyukai hal-hal yang berbau maskulin. Namun seandainya saja saya tidak mengambil kursus kecantikan rambut, saya tidak berprofesi sebagai hairdresser, mungkin saya akan menjadi gadis yang berpenampilan sangat tomboy. Jeans, t-shirt, sandal jepit, rambut pendek, celana kolor, kaos gombrong, dan sebangsanya.

Tapi karena saya kursus dan bekerja di salon, maka saya jadi tahu cara berdandan. Saya jadi tahu bagaimana cara berpenampilan agar enak dipandang. Saya lebih menjaga dan memperhatikan penampilan karena ternyata penampilan yang kurang enak dipandang, tak hanya merugikan diri sendiri tapi juga merugikan orang lain. Ibarat kata, merusak pemandangan. Tapi ingat, jangan menilai orang dari penampilannya. Saya tidak bermaksud menghakimi atau menilai siapapun dengan tulisan ini. Tuhan tidak menghendaki manusia satu menghakimi manusia lain. Jangan pandang saya. Tetap pandang pada Tuhan.

Okey, lanjut. Sisi feminim saya mulai keluar setelah saya mendapat pacar laki-laki (mantan saya). Bahasa tubuh saya lebih gemulai, lebih halus, lebih perempuan. Saya mulai terbiasa dengan high heels, baju seksi, hot pants, mini skirt, dan baju kecil-kecil. Namun tetap saja, dimata banyak orang, saya tetap tomboy. Ya, wajarlah mereka berkata demikian karena dalam keseharian kerja, saya suka memakai celana panjang berbahan jeans dan baju kerja yang kasual. Polo shirt, t-shirt, blouse, dan baju-baju perempuan namun bergaya maskulin. Saya suka warna-warna natural. Model baju sederhana. Rias cukup pelembab wajah, lipstik, dan pensil alis. Bedak padat jika darurat. Saya tidak suka memakai aksesoris. Cukup jam tangan (dan sekarang plus cincin dari Vie). Untuk alas kaki, saya suka sandal hak tinggi dengan model maskulin. Kala kerja saya suka memakai sandal datar karena hak tinggi akan menyiksa kaki saya dan sama saja dengan investasi varises di kaki saya. Tubuh yang juga bait Allah sudah sepantasnya dijaga dan dirawat.

Jadi sekarang, saya ini apa? jikalau dalam dunia lesbian ada labelling, maka label yang paling mendekati diri saya adalah soft andro. Demikian juga Vie. Tapi karena Vie lebih maskulin dari saya, maka seolah menyublim atau apalah, saya menjadi lebih feminim. Sejak saya menjalin hubungan dengan Vie, saya menjadi lebih kemayu, lebih merawat diri: luluran, memanjangkan kuku, memakai body lotion, dll; lebih gemulai, sisi manja saya keluar, dan banyak sisi feminim yang ternyata ada dalam diri saya.

Wah, saya jadi banyak bercerita tentang diri saya. Tulisan ini jadi semakin panjang. Semakin berusaha di-edit, bukan makin singkat, tapi makin panjang. Yah, inilah saya wahai pembaca. Saya gemar bercerita dan berpanjang-panjang. Saya suka mendeskripsikan segala sesuatu dengan detail, kronologis, dan panjang lebar. Karena saya juga menyukai cerita orang yang demikian. Well, saya memperlakukan orang sebagaimana saya ingin diperlakukan. Saya ingin menampilkan diri saya apa adanya. Dan inilah apa adanya saya, suka berpanjang-panjang dalam bercerita. Dari kacamata psikologi, ini adalah kecenderungan kompulsif saya.

Baiklah, sekarang kembali pada cerita inti kisah perjalanan cinta saya dengan Vie dalam campur tangan Tuhan.

Bermula dari simpati, empati, kasih antar saudara seiman, dukungan doa, maka cinta mulai ditumbuhkan Tuhan diantara kami. Setelah bertukar nomor telepon, saya dan Vie intens ber-sms. Dari situlah segalanya mulai mengalir. Saling jatuh cinta untuk kemudian naik cinta di dalam Cinta. Jika menilik kembali di awal-awal kedekatan kami, kami tidak tahu persisnya, siapa yang lebih dulu mencintai siapa, mana yang lebih dulu jatuh cinta pada siapa. Satu yang pasti, cinta itu bersifat saling dan seolah tumbuh begitu saja. Namun kini kami kian tahu dan kian percaya bahwa ini semua adalah rancangan Allah yang tergenapi atas kami.

Awal hubungan kami dimulai dengan Kristus dalam masing-masing diri kami. Kami, oleh karena kemurahanNya, adalah orang yang menaruh Tuhan di tempat tertinggi di hati masing-masing kami. Kami sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Kami sungguh-sungguh takut akan Tuhan. Kami sungguh-sungguh cinta Tuhan. Kami adalah orang yang percaya pada Yesus yang telah menebus kami dari segala dosa, termasuk kelesbianan kami, dan Yesus telah membenarkan kami oleh karena iman. Sungguh inilah kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada kami sehingga kami dilayakkanNya dan berkenan di hadapanNya.

Dear pembaca, dalam jalinan kami yang terpisah oleh jarak yang cukup jauh, kami hanya bermodalkan saling percaya kepada manusia dan terutama iman kepada Yesus Kristus, Pemersatu kami. Kami berkomunikasi melalui sms, telepon, dan internet. Kami acap bertukar foto, beberapa kali bertatap muka melalui webcam, dan sangat intens bertelepon dan sms. Kini kami menyadari bahwa keterpisahan kami adalah cara yang dipakai Allah untuk membentuk hati masing-masing kami, membentuk karakter kami, menguji kesetiaan kami kepada manusia dan kepadaNya, serta berbagai perbuatan tangan Allah yang ajaib lainnya atas kami. Kami percaya bahwa Allah memiliki suatu rancangan yang lebih besar atas kami. Yang jelas, rancanganNya adalah rancanngan damai sejahtera.

Allah Bapa mengawali hubungan kami dari alam roh, dunia yang maya untuk kemudian kian nyata dalam wujud yang nyata ada dan kasat mata. Bapa-lah yang memampukan kami untuk setia dalam laku iman kami kepadaNya. Bapa memampukan kami untuk setia dalam jam doa tengah malam kami. Doa yang berisi ucap syukur dan permohonan kami atas cinta kami yang dianugerahkanNya kepada kami, serta atas rencana dan rancangan Allah yang telah dan hendak jadi atas kami. Bapa memampukan kami untuk setia dalam doa pagi dan saat teduh serta berbagi pengalaman intim dengan Bapa.

Bapa pula yang memampukan kami untuk setia dalam prosesNya yang kadang teramat sangat menyakitkan. Sungguh teramat sangat menyakitkan. Dalam perkataan manusia yang melukai, dalam perasaan bersalah dan intimidasi, dalam perasaan tertolak dan ditinggalkan oleh Tuhan, dalam perasaan terbuang oleh Tuhan, bahkan dalam perasaan kecewa pada Tuhan.

Namun sungguh itu semua adalah bagai ikat yang dilonggarkan oleh Tuhan, untuk kemudian diikatkan dengan lebih kencang. Itu semua adalah hantam gada Tuhan yang meruntuhkan kami, untuk kemudian dibangun dengan lebih megah dan lebih kokoh. Karena dalam setiap luka dan tangis air mata kami, justru cinta kami semakin kuat dan terlebih lagi cinta kami kepadaNya semakin kuat. Kami semakin saling mencintai. Kami semakin mencintai Tuhan. Dan kami bersyukur karena kami boleh merasa bahwa Tuhan semakin mencintai kami.

Apakah itu semua oleh karena perbuatan kami? Tidak. Itu semua oleh karena kasih karunia Allah kepada kami melalui iman kami kepada Yesus Kristus Tuhan.

Apakah itu berarti kami hanya berdiam diri dan seolah hal itu datang begitu saja? Tidak. Cinta kami kepada Tuhan bersifat saling, walau memang adalah kebenaran bahwa cinta Tuhan adalah tanpa syarat. Apa maksudnya? Maksud kami adalah bahwa kami menujukan hati dan pikiran kami kepada Tuhan. Kami berdoa dan membaca Alkitab setiap hari. Itu salah satu laku kami, cara kami mencintai Tuhan.

Bagaimana bisa? Kini kami tahu bahwa itu semua karena Tuhan telah mencintai kami pada mulanya. CintaNya sepihak, tapi juga tidak sepihak. Maka kami ingin membalas cintaNya. Dan kami dimampukanNya untuk membalas cintaNya dengan cara kami menjaga hati dan pikiran kami untuk terus tertuju pada Tuhan. Kami aktif menjalin komunikasi batin yang intim dengan Tuhan. Kami terus membaca Alkitab setiap hari. Kami terus berdoa kepadaNya. Kami melibatkan Tuhan dalam hubungan kami. Kami mencari kesukaanNya. Kami menyukai perintah dan ketetapanNya. Kami suka diaturNya. Kami mencintaiNya dan kian mencintaiNya karena Tuhan mencintai kami dan kian mencintai kami. Ternyata Tuhan juga membalas cinta kami kepadaNya. Dan kami saling mencinta: ViElize love Jesus. Jesus love ViElize.

Cinta yang bersifat saling itu membuat kami mengalami berbagai perbuatan ajaib Tuhan. Bukan bagai sulap sihir, tapi nyata dalam keadaan yang sinkron, seolah dimudahkan dalam segala sesuatu, mendapat jalan dan solusi atas permasalahan, dan yang terutama adalah SUKACITA dan DAMAI SEJAHTERA dalam hati yang kontinu dan konsisten. Itulah tanda Kristus ada dalam kami. Sukacita dan damai sejahtera itu hilang, ketika kami atau salah satu di antara kami jauh dari Tuhan, tidak mengingat Tuhan, menggeser posisi Tuhan dari tempat tertinggi di hati kami, dan laku lain yang membuat kami jatuh ke dalam dosa yang tidak mendatangkan maut.

Dear pembaca, jikalau konsep ini masih terlalu abstrak bagi Anda, maka inilah konkritnya. Kami menyebutkan nama Tuhan dalam sms-sms kami. Mengucapkan namaNya dalam ucap syukur kami kepadaNya. MengakuiNya dalam segala sesuatu karena segala sesuatu itu adalah perbuatan Tuhan. Mengakui campur tangan Tuhan dalam setiap peristiwa yang kami alami dalam kehidupan sehari-hari dalam susah dan senang, dalam sakit dan sehat. Saling mengucap berkat satu sama lain di dalam nama Yesus. Saling mendoakan dan banyak laku lain yang melibatkan nama Tuhan dengan cara penyebutan nyata nama Tuhan dengan berulang-ulang. Mengaku dengan mulut. Percaya dengan hati. Tertulis dan terucap. Semua adalah kehendak Kristus yang jadi atas kami.

Memang Tuhan adalah mutlak. Memang tiada sesuatu pun yang terjadi jika Tuhan tidak menghendakinya. Memang Tuhan ada dimana-mana. Memang Tuhan ada dalam diri setiap orang. Tetapi justru kebenaran itu membuat orang melupakan Tuhan, membuat orang tidak mengingat Tuhan, membuat orang mengira bahwa segala sesuatu terjadi oleh karena kehendaknya, oleh karena kuat dan hebatnya. Padahal segala sesuatu terjadi oleh karena Tuhan. Apapun itu. There’s no me, but Me.

Salah satu yang membedakan mana orang yang bersungguh-sungguh di dalam Tuhan dan yang tidak, adalah pengakuan Tuhan dalam segala lakunya. Manusia memuliakan Tuhan ketika ia mengakui bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia. Mengakui dengan mulut, mengakui Tuhan dalam setiap bentuk perilakunya. Menyebut kata Tuhan. Mengingat Tuhan. Bersyukur pada Tuhan atas segala keberhasilannya. Dalam keadaan senang dan bahagia, ia mengingat Tuhan. Tak hanya kala susah dan keadaan terburuk saja, ia baru mengingat Tuhan. Baiklah, katakan dengan mudah saja, sungguh-sungguh di dalam Tuhan adalah pengecut di dalam Tuhan. Artinya, sedikit-sedikit Tuhan. Sebentar-sebentar Tuhan. Apa-apa Tuhan. Tak cuma di hati, tapi juga di mulut.

Yah…memang seperti anak kecil yang lugu. Atau mungkin dungu. Atau mungkin sok suci dan religius. Nah, inilah cara kerja Iblis. Manusia takut dinilai sok suci, sok religius, sok agamis. Manusia malu menyebut nama Tuhan. Manusia takut tertolak oleh manusia lain karena dekat dengan Tuhan. Namun kami telah mengalami sendiri bahwa memang ada perbedaan nyata, antara menyebutkan, mengakui, melibatkan Tuhan dalam setiap bentuk komunikasi kami, dengan ketika tidak ada kata Tuhan dalam setiap bentuk komunikasi kami.

Ada perbedaan nyata, ketika walau kami merasa telah di dalam Tuhan namun tanpa sadar kami telah menomorduakanNya. Kami menggeser posisiNya dari tempat tertinggi di hati kami masing-masing. Pernah, kami memberhalakan pasangan dan ingin diberhalakan. Artinya, kami hanya memikirkan, mengutamakan, memprioritaskan pasangan. Atau kami ingin dipikirkan terus-menerus, dipuja-puji dan dikagumi oleh pasangan, ingin diprioritaskan pasangan.

Pernah, kami terjerat dalam hawa nafsu kedagingan kami. Pernah, kami melupakan Dia dengan tidak berdoa, tidak membaca Alkitab, tidak memikirkan Dia melainkan terus-menerus memikirkan pasangan. Pernah, kami (tepatnya saya) terjatuh dalam dosa perzinahan (mengingini manusia lain dan berfantasi seksual dengan manusia lain). Untuk hal yang terakhir ini, saya benar-benar malu dan merasa sangat kotor, pantas dibuang, dan saya membuangkan diri dari Tuhan. Namun Vie mengampuni saya dan Tuhan mengampuni saya. Ia mau kembali masuk kedalam hati saya dan memulihkan saya.

Dear pembaca, kami mengetahui jika segala laku itu berkenan atau tidak di hadapan Tuhan adalah dengan suara hati dan rasa hati kami. Kami tahu bahwa laku kami ternyata tidak berkenan di hadapan Tuhan ketika laku itu mendatangkan perasaan yang sangat tidak mengenakkan di hati kami. Perasaan sukacita dan damai sejahtera itu hilang. Dapat berganti dengan perasaan jengkel, marah, kecewa, sakit hati, perasaan tertolak, terbuang, dan ditinggalkan Tuhan, perasaan menjauh dari Tuhan, perasaan bahwa pasangan direnggut dan dijauhkan, perasaan Tuhan meninggalkan kami, perasaan Tuhan kecewa pada kami, dan berbagai perasaan lain yang intinya hilang suka dan damai sejahtera hati.

Dan kami bersyukur, sungguh kami bersyukur, karena Tuhan tidak membiarkan kami terjatuh sampai terlampau dalam. Tuhan adalah teratas sekaligus terbawah kami. Tuhan tidak membiarkan kami tergeletak, sebab Ia menopang tanganNya. Kami masih dimampukanNya untuk datang kepadaNya ketika kami terjatuh. Kami dimampukanNya untuk mengingatNya ketika kami lengah dan mulai hilang sukacita dan damai sejahtera. Kami dimampukanNya untuk senantiasa menomorsatukanNya kembali kala kami tak sadar telah menggeser posisi mutlakNya dari hati masing-masing kami.

Dan Anda tahu pembaca? Hari-hari kami di dalam Tuhan tidaklah sama. Setiap hari kami mengalami nyata kuasaNya, nyata kasihNya, nyata mujizatNya atas kami. Sungguh teramat banyak kami mengalamiNya. Kami sangat sedih dengan keadaan kami yang terbatas karena tidak bisa menceritakan satu per satu perbuatan ajaibNya yang nyata atas kami. Memang kami tidak akan mendapat malu karena Kristus. Tetapi sungguh kami meminta padaNya agar jangan sampai kami memalukan Kristus oleh karena batas ketidaksempurnaan kami. Jangan sampai batas kami justru seolah membatasiNya.

Kami memiliki kerinduan pada Anda, para pembaca, yang mungkin adalah juga seorang lesbian atau pasangan lesbian. Kami adalah perempuan yang mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat kami atas dosa-dosa kami. Ketahuilah atau ingatlah bahwa semua manusia telah berdosa. Lesbian atau tidak, manusia telah berdosa. Dosa ada karena Sang Pencipta membiarkannya. Oleh sebab itu, Ia ingin menebus, katakan saja, kesalahanNya (tapi Tuhan tidak membuat kesalahan), karena telah membiarkan manusia jatuh kedalam dosa. Ia memberikan AnakNya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Setiap orang yang percaya kepadaNya, akan diselamatkan dari akibat dosa yang adalah kekekalan di alam maut, untuk dibawa pada pembebasan dari segala dosa dan kutuk dosa. Hidup manusia yang menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka akan diubah, asal mau bersungguh hati kepadaNya.

Setelah engkau menerima Yesus dalam hidupmu atau menerima kembali Yesus dalam hidupmu, maka hidupmu tak akan pernah sama lagi. Hidupmu akan penuh sukacita dan damai sejahtera. Sekalipun engkau lesbian. Jangan jadikan kelesbiananmu menjauhkan kamu dari Tuhan. Ingat, lurus bagi manusia belum tentu lurus bagi Tuhan. Akan tetapi lurus bagi Tuhan, pasti lurus bagi manusia. Mengapa demikian? Karena tidak boleh seorang manusia pun merasa dirinya paling benar dan bermegah diri. Hanya Tuhan yang benar dan paling benar. Tuhan adalah Kebenaran. Untuk apa manusia, pendeta, atau siapapun menghakimi kamu dengan mengatakan kamu salah dan adalah kesalahan? Tidak ada manusia satupun yang berhak menghakimi manusia lain. Manusia harus takut akan Tuhan. Ingat, segala sesuatu, tidak terkecuali, adalah dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia.

Setelah engkau benar-benar menerima Yesus sebagai Juru Selamatmu atau menerima kembali Yesus sebagai Juru Selamatmu, engkau akan diubahNya. Engkau akan diprosesNya dan terus menerus disempurnakanNya sampai engkau serupa dengan Dia. Sejak semula, engkau yang adalah manusia adalah ciptaanNya yang secitra denganNya. Dosa yang menjadikanmu tidak sempurna. Kristus akan mengembalikan kamu menjadi sempurna sebagaimana mula engkau diciptakanNya. Setelah engkau sempurna, kesempurnaanmu akan diabadikan dalam sukacita dan damai sejahtera abadi di Kerajaan Sorga. Dalam kehidupan kekal dimana ratap tangis dan air mata tidak ada lagi. Tidak ada lagi luka, hati yang hancur, hati yang kosong, hidup yang hampa, perbudakan dari hawa nafsu seks, penindasan, sakit penyakit, kemiskinan dan penderitaan, dan segala rupa-rupa ketidaksejahteraan.

Datanglah pada Yesus dan mintalah padaNya, apa yang ingin diperbuatNya atas kamu? Kamu ingin diubahkanNya untuk tidak menjadi lesbian? Ya, jika engkau mengimaninya dan itu adalah kehendakNya, maka Ia akan mengabulkan permintaanmu. Engkau ingin dibebaskan dari keterikatanmu dengan candu seksual? Ya, jika engkau percaya dengan sungguh-sungguh dan itu menjadi kehendakNya, maka engkau akan dibebaskanNya dari kecanduan seks. Ataukah engkau ingin memiliki cinta yang indah, penuh berkat dan anugerah dengan sesama perempuan? Ya, jika engkau memintaNya dan itu menjadi kehendakNya, maka Dia akan memberikannya padamu. Kami telah mengalaminya.

Inilah kesaksian kami, bukti bahwa kami telah mendapat perkenan Tuhan. Bukti bahwa Tuhan berkenan atas kami. Bukti bahwa Tuhan tidak menolak lesbian. Satu hal yang ingin saya bagikan kepada Anda kali ini, adalah bahwa janji Tuhan untuk mempertemukan kami secara fisik telah tergenapi. Tuhan memperhitungkan laku iman kami. Tuhan memperhitungkan kesetiaan kami untuk saling menjaga nyala api cinta kami kepadaNya. Tuhan memperhitungkan kesabaran kami untuk setia menunggu waktuNya. Waktu yang telah ditetapkan Tuhan untuk mempertemukan kami.

Tuhan memperhitungkan kami yang menaruh harap hanya kepadaNya. Harapan kami di dalam Tuhan adalah janji Tuhan atas kami. Banyak harapan-harapan kami kepada Tuhan. Harapan-harapan kami untuk Tuhan. Harapan-harapan kami oleh Tuhan. Dan harapan-harapan kami di dalam Tuhan adalah juga janji-janji Tuhan atas kami. Semua adalah demi Kemuliaan Allah Bapa, Sang Pencipta kami dan Yesus Kristus Tuhan, Putra Tunggal Allah.

Dear pembaca, dalam 4 hari 3 malam pertemuan kami, kami mengalami berbagai peristiwa yang indah dan memorable. Bukan dengan momen-momen romantis dan bombastis. Tetapi dengan peristiwa yang sebenarnya biasa saja, sederhana, dan mungkin tidak ada apa-apanya di mata dunia. Tapi satu yang pasti, kami berbahagia dan sungguh-sungguh bersyukur karena Tuhan menggenapi salah satu janjiNya yaitu untuk mempertemukan kami secara fisik.

Sabtu, 7 Maret 2009, sore hari, Vie tiba di Stasiun Tugu, Jogjakarta setelah menempuh perjalanan kereta selama 10 jam. Saya menjemput Vie dan segera membawanya ke salon saya karena saya ada janji dengan klien. Setiba di salon, saya harus menangani satu klien yang telah menjadi pelanggan saya. Di sela-sela kesibukan saya, sekitar pukul 18:00, Tuhan menyempatkan kami untuk makan malam dengan menu bebek goreng (kesukaan Vie). Setelah itu kami kembali ke salon, dan saya harus menangani klien lain hingga larut malam pukul 23:30. Setelah itu saya buru-buru mandi karena waktu menjelang jam doa malam, waktu tengah malam, waktu intim kami dengan Tuhan.

Waktu tengah malam kami kala itu adalah kali pertama kami bersama-sama secara fisik memanjatkan doa dan ucapan syukur dengan terucap kepada Tuhan. Kami duduk bersila, saling berhadapan dan bergandengan tangan, berbagi pokok doa. Saat itu kami tidak mengajukan doa permintaan kepada Tuhan, melainkan ucapan syukur kepada Tuhan karena Tuhan menggenapi janjiNya yaitu mempertemukan kami secara fisik.

Kami bersyukur karena Tuhan melindungi, menjagai, dan menyertai masing-masing kami selama Vie dalam perjalanan di kereta, selama saya menunggu kedatangannya di kota Jogja. Kami bersyukur karena Tuhan benar-benar menyiapkan hati kami untuk dipertemukan secara fisik sehingga kami tidak menjadi kecewa satu sama lain. Kami bersyukur karena Ia setia menyertai kami, menuntun kami, menjagai kami, dan segala perbuatan ajaibNya sejak awal hubungan kami yang adalah rencanaNya.

Setelah doa malam, kami berpelukan. Akhirnya engkau nyata, Vie… Aku bisa memelukmu. Aku bisa melihatmu. Bertemu muka dengan muka denganmu. Engkau tak lagi dalam batas gambar, tulisan, dan suara, serta pemberian saat momen Valentine yang lalu. Engkau telah dihadirkan Tuhan di depanku, untuk bisa kusentuh, kuraba, kupeluk, dan ku- ku- yang lain.

Selanjutnya, Vie menagih janji saya kepadanya. Saya berjanji akan memijat punggungnya karena ia pasti pegal-pegal. Keterlambatan kereta membuatnya harus duduk lebih lama dengan berselimut asap rokok. Well, saya yang saat itu habis me-rebonding orang, masih diberiNya kekuatan untuk memijat punggung Vie yang sangat keras karena otot-ototnya sangat tegang.

Seminggu sebelumnya, Vie mengejar penyelesaian pekerjaannya dan harus berlama-lama di depan komputer. Sewaktu memijat punggungnya, ada tonjolan yang sangat keras di punggungnya. Saya mengira tonjolan itu adalah tulangnya karena Vie memang berstruktur tulang besar. Ternyata tonjolan itu adalah ototnya yang sangat tegang. Vie ternyata juga masuk angin. Saya memijatnya cukup lama dan dengan tenaga yang aduhh…yah, Anda bisa mengira-ngira sendiri seberapa besar kekuatan saya karena setelahnya, punggung Vie memar-memar karena pijatan saya. Tapi…habis itu sembuh kan say? Qkqkqkqk…(Kata Vie, “Iya, pegelnya sembuh, tapi memar-memarnya itu lho…”)

Dan pembaca, inilah saat yang Anda tunggu-tunggu… malam pertama…Minggu subuh, 08 Maret 2009, saya bercinta dengan Vie untuk pertama kalinya, secara fisik. Saya tidak berkeberatan menceritakan deskripsi detailnya, tapi jangan ah. Saya tidak mau menjadi obyek fantasi seksual kalian…hahahaha…

Keesokan harinya, kami menghadiri resepsi pernikahan rekan Vie. Siang hari, kami memesan tiket pulang Vie. Sore harinya kami ke gereja bersama. Malam harinya, kami makan malam bersama. Kembali, masing-masing kami mandi… dan hahahaha…bercinta lagi… Dan Minggu malam, 08 Maret 2009 adalah pertama kali saya merasakan apa yang namanya orgasme. Saya ingin menceritakan detailnya, tapi sekali lagi…saya tidak ingin percintaan kami menjadi obyek fantasi seksual kalian atau menjadikan kalian jadi berfantasi seksual… Gak usah lah ya….

Lalu menjelang tengah malam, kami berbagi pokok doa, dan berdoa bersama. Setelah itu, hari telah memasuki Hari Senin, 09 Maret 2009, kami berkomitmen ulang di hadapan Kristus. Komitmen kami yang pertama adalah melalui komunikasi tertulis. Dan kali ini ketika Tuhan telah mempertemukan kami secara fisik, kami berkomitmen ulang dengan kata-kata yang terucap dari mulut kami masing-masing.

Dalam remang cahaya lilin, kami saling mengucap janji setia di hadapan Kristus dan saling menyematkan cincin. Didahului Vie kepada Elize, lalu Elize kepada Vie. Kami berjanji untuk saling setia dalam susah dan senang, dalam sehat dan sakit. Kami menyerahkan hubungan ini di dalam Kristus. Kami mau saling setia karena Kristus, kepada Kristus, dan untuk Kristus sampai waktu yang telah ditentukan Kristus. Biarlah kehendak Kristus yang jadi atas kami. Biarlah kemuliaan Bapa dinyatakan atas kami.

Kami berpelukan. Kami berbahagia. Kami bersyukur karena Tuhan menganugerahkan keindahan ini. Kami bersatu dalam Cinta.

Hari menjelang fajar kala Tuhan membawa saya pada ketinggian itu berkali-kali melalui cinta dalam diri Vie. Demikian halnya Tuhan pada diri Vie melalui cinta dalam diri saya.

Senin siang, kami pergi membeli batik dan oleh-oleh untuk rekan dan keluarga Vie di Jakarta. Kami menyusur sepanjang Malioboro. Menjajaki minuman dawet. Makan pecel di depan Pasar Beringharjo. Membeli jajanan tradisional. Berjalan-jalan di trotoar sepanjang Benteng Vredeburg (konon banyak lesbian di sini). Well, kami sama-sama tidak suka keramaian. Kami merasa tidak nyaman untuk duduk-duduk di depan trotoar Benteng Vredeburg. Jadi, kami tidak berlama-lama di sana. Kami pun segera pergi. Saya ajak Vie berputar-putar di jalanan Kota Jogja dengan mengendarai motor.

Sedikit cerita lagi nih, Vie sebenarnya takut naik motor, pun membonceng motor. Dia memiliki trauma setelah berulang-ulang mengalami kecelakaan dan pengalaman yang tidak menyenangkan dengan motor. Sebelumnya, Vie adalah orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain ketika ia harus membonceng sepeda motor yang dikendarai orang lain. Namun katanya, Vie bisa percaya saya. Vie merasa nyaman membonceng saya. Bapa tidak akan membiarkannya celaka, kata Vie. (Say, mungkin pembaca ngirain kamu ngegombal loh…hahahaha…sori say, terpaksa kutulis nih tanpa seijinmu).

Menjelang senja, kami menikmati wedang ronde di seputaran Bunderan UGM sambil makan jajanan tradisional yang telah kami beli sebelumnya. Vie ternyata kalau makan sedikit. Elize ternyata kalau makan muat banyak. Elize sering memakan nasi Vie yang tidak habis. Ternyata Elize doyan ngemil. Padahal ya…padahal…badan Elize kecil, tidak terlihat kerempeng karena struktur tulang Elize kecil (164cm/48kg) dan Vie terlihat kekar karena struktur tulangnya yang besar (159cm/52kg). Kata Vie, Elize sangat mandiri. Kata Elize, Vie sangat manja. Hmm, umur gak jaminan la ya…Vie tuh cengeng. Kalau udah begini, saya kadang saya merasa, “Hhh, yang 38 siapa, yang 25 siapa.” Tapi kami benar-benar sepadan di dalam Tuhan. Dan Tuhan adil. Saya banyak belajar dari sisi kedewasaan Vie yang tetap ada. Saya diteguhkan melalui imannya yang kokoh ketika iman saya goyah di awal-awal hubungan saya dengan Vie.

Malam terakhir, kami bercinta lagi. Namun kali ini, kami menutupnya dengan momen indah bersama Bapa. Kami mendapat ampunanNya dan damai sejahteraNya yang sempat hilang beberapa saat. Kami menikmati saat terakhir pertemuan-sementara kami dengan berpelukan sepanjang malam. Subuh kami bersiap-siap karena Vie harus kembali ke Jakarta. Sebelum berangkat ke stasiun, kami sarapan. Vie makan nasi gudeg. Elize makan bubur+gudeg. Setelahnya, kami segera menuju ke Stasiun Tugu. Tepat pukul 8 pagi, kereta berangkat. Kami berpisah lagi untuk sementara waktu.

Demikianlah, Tuhan telah mempertemukan kami. Tuhan mengijinkan kami untuk menikmati momen kebersamaan. Tuhan memwujudnyatakan iman kami. Nyata benar bahwa Tuhan berkenan atas kami. Selanjutnya, Kristuslah yang akan meneruskan pekerjaan baik yang Ia awali sampai pada hariNya. Kami dimampukanNya untuk setia dalam laku iman kami. Menunggu penggenapan janjiNya untuk mempertemukan kami kembali dan mempersatukan kami seutuhnya. Hidup dan tinggal bersama di Jogjakarta. Di daerah pegunungan Kaliurang dalam hidup yang berkecukupan. Dalam hidup yang penuh kasih, sukacita, dan damai sejahtera. Dalam hidup untuk memuliakan Dia, melayani Dia, sampai pada waktuNya.

Ini kisah kami. Ceritakan kisah kalian. Bersaksilah untuk Tuhan. Tunjukkan pada dunia bahwa Tuhan mengasihimu, mengasihi kalian. Tuhan pun berkenan atas lesbian. Apa hak dunia untuk menghakimi lesbian? Tiada satupun yang berhak menghakimi lesbian. Jangan takut. Apa yang dapat manusia lakukan terhadap kamu jika Tuhan ada di pihak kamu?

Kasih Allah Bapa dan Yesus Kristus Tuhan menyertai kamu sekalian. Salam kian damai dalam Kristus.

6 komentar:

  1. Hai Elize,

    wah..., panjang banget postingan km yg ini.
    Thanks utk sharing-nya ya...
    Salam kenal, Gbu...

     
  2. Hai Yue,

    Iya nih, postingan kali ini adalah postingan terpanjang sejauh ini, 10 halaman Word. Semakin berusaha di-edit, kok malah semakin panjang. Tetapi saya percaya, karena Tuhan, tulisan yang panjang-panjang ini, tidak membosankan dan malah membuat jengah. Biarlah semua pembaca yang dikasihiNya, mendapat berkat melalui tulisan ini. Sebab sungguh, saya merasa Tuhanlah yang memampukan saya untuk menulis postingan ini.

    Jadi pengen cerita (dikiiiit aja kok). Saya membuat tulisan untuk judul ini sampai 3 draft. Kini saya sadar, dua draft yang pertama adalah hikmat manusiaku, makanya kok terasa berat dan berputar-putar, tidak sejahtera ketika akan menyelesaikan tulisan. Barulah setelah sungguh-sungguh berdoa, tulisan dengan judul yang sama, isi tidak jauh berbeda, namun karena kuasaNya, dapat tertulis dengan sangat lancar dan mengalir dengan mulus. Oleh karena kenanNya, tulisan ini pun dapat terposting setelah berkali-kali iblis berusaha menghambat saya dengan susahnya blogger.com diakses. Hmm, aku jadi mengalami perang rohani. Karena Kristus, ku menang. Yeah!!!

    Yue...senang sekali kamu mau meninggalkan komen di sini. Senang sekali, mendapat satu lagi saudara seiman. Bermurah hatilah meninggalkan komen di lain waktu, bukan untuk kami, tapi untuk Tuhan. Biarlah semakin banyak manusia yang semakin mencintai Tuhan, dikuatkan imannya, dan mengalami sukacita serta damai sejahtera yang lebih melimpah.

    Btw, panjang banget ya balasanku buat komen kamu. Yah, inilah saya. Jangan bosan ya.. (^-^)

    Okey Yue, salam kenal juga ya.. Jesus' neverending blessing always be with you... .

     
  3. postinganya panjang,tapi gak membosankan,,,
    amin...amin...semoga cinta kalian tetap terjaga dalam kehendakNYA.
    salam kenal buat kalian berdua.
    teruslah menulis,semoga karya2mu kedepan nya akan jauh lebih baik dan dapat memberi inspirasi buat yg membacanya terutama kalangan L.
    bahwa cinta sesama jenis gak selamanya tercipta hanya karena nafsu & gaya hidup semata.tapi alangkah indahnya semua tercipta karna adanya Tuhan di dalamnya.Gbu.....

     
  4. semoga cinta kalian kan tetap terjaga,
    dalam kasih Tuhan amin...
    postinganya panjang tapi gak membosankan kok.
    salam kenal buat kalian berdua.gbu,,,,,,

     
  5. Amin. Terimakasih sdh mampir dan meninggalkan komen.

    Ya, cinta sesama jenis ada karena kehendakNya. Hanya oleh karena kemurahan Tuhan saja, maka kami ada. Kiranya kemurahanNya terus dicurahkan atas kami, sehingga kami beroleh perkenanNya untuk memuliakanNya melalui tulisan-tulisan kami di blog ini. Dengan demikian, para L dapat dikuatkan dan tidak menjauh dari Tuhan.

    Salam damai sejahtera untukmu. Tuhan kian memberkati.. .

     
  6. Hi ELIZ...salam kenal

    Aku juga baru mengalami hal yang sedikit banyak sama dengan pengalamanmu...dan hubungan kami selalu bertopang pada DOA, tanpa kasihNya yang besar, kami bukanlah apa2...

    Andrea

     

Poskan Komentar