The Holy Bible for Me
Pada ada awal mula saya menulis blog, ada suatu masa dimana iman saya terombang-ambing karena ‘bertemu’ dengan sesama orang Kristen. Saya dan perempuan itu sempat intens berkirim email dan chatting. Kami berdiskusi (atau mungkin berdebat) tentang Firman Tuhan di Alkitab berkaitan dengan homoseksualitas, khususnya lesbian. Perempuan itu mengaku telah diubahkan perasaannya oleh Tuhan. Ia tidak lagi lesbian. Ia bertobat, menerima Yesus, dan hidupnya berubah oleh karena Tuhan. Ia tidak lagi memiliki ketertarikan untuk menjalin hubungan dengan sesama jenis.
Sedangkan keadaan saya saat itu adalah saat dimana saya merasa bahwa Tuhan telah menunjukkan berbagai kebenaran Alkitabiah yang mengubah hidup saya (ada dalam tulisan “Kebenaran yang Mengubah Hidup Saya 1-4”). Saya merasa Tuhan mendamaikan saya dengan keadaan diri saya seutuhnya oleh iman kepada Yesus Kristus. Saya bukanlah orang benar, tetapi Tuhan Yesus membenarkan saya, seperti tertulis dalam Roma 3:23-27:
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!”
I Korintus 1:30, “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”
Demikianlah, oleh kemurahan Allah, saya telah dibebaskan dari perasaan bersalah, dari perasaan berdosa dengan adanya kecenderungan lesbian dalam diri saya saat itu. Dan dengan demikian, saya merasa menjadi lesbian bukanlah sebuah dosa.
Akan tetapi, perempuan itu seolah tidak menghendaki saya menjadi lesbian. Ia bahkan merasa kasihan kepada saya. Ia mengatakan bahwa Tuhan bisa mengubahkan perasaan seseorang. Tuhan bisa mengubah perasaan tertarik terhadap sesama jenis, menjadi tertarik terhadap lawan jenis. Dan Tuhan tidak menciptakan lesbian. Kemudian, saya menyimpulkan bahwa berbagai kebenaran Alkitabiah yang saya rasakan mengubah hidup saya itu adalah sebuah kesalahan: saya salah dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab. Perasaan saya menjadi tidak keruan saat itu. Saya merasa terintimidasi dan terhakimi. Bimbang dan goyah. Takut dan sungguh teramat sangat takut. Saya banyak mencucurkan air mata ketika membaca email darinya atau saat chatting dengannya.
Kemudian dalam satu kesempatan chatting berikutnya, perempuan itu mengaku bahwa dirinya sempat ‘kelimpungan’ selama tiga hari karena bermimpi menjalin hubungan sesama jenis lagi. Kemudian saya bertanya kepadanya, bukankah itu tanda bahwa manusia tidak dapat berbantah dengan Penciptanya. Lesbian tetaplah lesbian. Ketika ia telah diciptakan sebagai seseorang yang tertarik pada sesama jenis, maka ia akan menjadi ada sebagaimana Allah menciptakannya. Saya mengatakan pada perempuan itu bahwa ia tidak bisa berbantah dengan Pencipta. Dan ia menanggapi dengan kata-kata yang tidak mengenakkan bagi saya, bahkan sesungguhnya menyakitkan. Tidak hanya sekali itu saja. Kejadian semacam itu terjadi lagi pada suatu kesempatan chatting berikutnya.
Meski demikian, saya bersyukur sebab Tuhan justru menunjukkan kebenaran bahwa saya harus memandang kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Bukan kepada perempuan itu yang sempat saya anggap sebagai orang yang paling benar. Saya harus menguji segala sesuatu, seperti yang tertulis dalam I Tesalonika 5:21, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya,” (Lukas 6:43&45).
Lantas apakah itu berarti yang baik dan benar adalah saya? Tidak. Saya bukanlah orang yang baik dan benar. Saya adalah orang yang merasa benar menurut pandangan saya sendiri. Dengan demikian, Tuhanlah yang benar. Benarlah Firman Tuhan yang mengatakan, “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati,” (Amsal 16:2). Benarlah Firman Tuhan yang mengatakan, “Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati,” (Amsal 21:2). Benarlah Firman Tuhan yang mengatakan, “Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: ‘Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi,’” (Roma 3:4).
Lalu, apakah saya lantas membenci perempuan itu karena (mungkin tidak sengaja) telah menyakiti saya? Tidak. Saya tidak membenci perempuan itu. Saya takut kepada Tuhan, maka saya memilih untuk mengikuti perintahNya yaitu untuk mengampuninya. Seperti yang tertulis dalam Matius 6:14-15, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
Saya tetap mengasihi perempuan itu karena bagaimana pun, Tuhan telah memakai perempuan itu untuk menerima Yesus kembali dalam hidup saya. Perempuan itulah yang mengajak saya berdoa untuk menerima Yesus masuk kembali kedalam hati saya. Perempuan itu pulalah yang mengajarkan kepada saya cara membaca Alkitab, yakni urut mulai dari Perjanjian Baru, kemudian Perjanjian Lama. Saya bersyukur sebab perempuan itu mengasihi saya. Dia peduli pada saya. Dia tidak menghendaki saya terjatuh dalam sisi gelap dunia lesbian. Namun demikian, saya tidak boleh memandang kepada perempuan itu dengan menganggapnya sebagai orang yang paling benar. Saya harus memandang kepada Tuhan yang paling benar, yakni Ke-Mahakuasaan-Nya yang sanggup mengubahkan perasaan perempuan itu dari kecintaannya terhadap sesama jenis.
Waktu terus berlalu. Saya tetap melanjutkan hidup saya dengan mencari kebenaranNya, ketetapanNya, perintah-perintahNya, dan segala sesuatu tentang Dia. Saya terus berdoa dan membaca Alkitab. Hingga pada akhirnya, oleh kemurahan Tuhan, saya sampai pada titik pemahaman tentang apa yang tertulis dalam Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
Apa itu artinya? Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Segala sesuatu artinya adalah semuanya, segala-galanya, tidak terkecuali lesbian, adalah dari Tuhan: ciptaan Tuhan. Dengan demikian, lesbian adalah ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan lesbian untuk tujuanNya sendiri. Entahkah untuk hari murkaNya. Entahkah untuk belas kasihanNya. Entahkah untuk dibinasakanNya. Entahkah untuk menyatakan kekayaan kemuliaanNya. Seperti ada tertulis dalam:
Amsal 16:4, “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.”
Roma 9:20-23, “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan --justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan,”
Roma 9:18, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.”
Pengkhotbah 7:13, “Perhatikanlah pekerjaan Allah! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan-Nya?”
Oleh sebab itu, “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.
Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” (Pengkhotbah 12:13).
Dengan demikian, sesungguhnya Allah menghendaki tiap-tiap manusia untuk takut kepadaNya. Karena Dia sanggup melakukan segalanya. Dia-lah yang memegang kendali atas segala sesuatu. Dia yang berkuasa atas diri tiap-tiap manusia, termasuk saya. Dia bisa saja menghilangkan kecenderungan lesbian yang ada dalam diri saya saat itu. Dia bisa juga melipatkaligandakan kecenderungan lesbian yang ada dalam diri saya, menjadi kecenderungan triseksual, quartoseksual, atau bahkan kengerian lain yang belum pernah dilihat mata manusia - yang Dia sanggup lakukan atas diri saya. Intinya, saya harus takut akan Dia. TUHAN MAHAKUASA. Dia bisa melakukan apa saja atas diri saya sekehendak hatiNya.
Sampailah saya pada titik kepasrahan saya kepadaNya. Saya pernah menuangkannya dalam tulisan “God Almighty.” Saya menyerah kepadaNya. Tuhanlah yang berkuasa atas diri saya. Terserah Tuhan menghendaki saya menjadi apa. Saya meminta kepadaNya agar saya dikenanNya untuk mengasihiNya dengan segenap akal budi, hati, dan jiwa saya, seperti yang tertulis dalam Matius 22:37, “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”
Agar Ia senantiasa menaruh belas kasih dan kemurahan kepada saya agar saya layak untuk memuliakanNya, seperti yang tertulis dalam Roma 15:6, “sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.” “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!,” (I Korintus 6:20).
Agar Ia memberi hikmat dan marifat, karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6), karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya (Amsal 8:11), karena memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak (Amsal 16:16).
Agar Ia jangan membiarkan saya jatuh kedalam berbagai-bagai pencobaan, seperti yang tertulis dalam Matius 6:13, “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Agar Ia membentuk saya dengan cara yang halus, seperti yang tertulis dalam I Korintus 4:21, “Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?”
Agar Ia membentuk karakter saya terus menerus hingga serupa dengan Kristus, seperti tertulis dalam Roma 8:29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Agar Ia menganugerahkan kepada saya kehidupan yang sempurna dan utuh, seperti yang tertulis dalam Yakobus 1:4, “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”
Apakah kehidupan yang sempurna dan utuh di bumi ini akan saya jalani sendirian atau tidak, Tuhanlah yang menentukan. Jika memang tidak baik bagi saya seorang diri saja, maka Tuhan akan memberikan saya seorang pendamping yang sepadan, entah seorang laki-laki atau seorang perempuan atau tidak keduanya. Jika Tuhan menghendaki sebuah kehidupan lahir melalui rahim saya, maka terjadilah kehendakNya, entah dengan penetrasi seksual atau inseminasi buatan atau tidak keduanya.
Demikianlah saya sudah berserah kepada Tuhan yang telah mendamaikan diri saya dengan kecenderungan lesbian yang ada dalam diri saya waktu itu. Saya memilih untuk tetap dalam keadaan saya, seperti yang tertulis dalam I Korintus 7:25-28:
“Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah. Aku berpendapat, bahwa mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya. Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang! Tetapi kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.”
Saya tidak mencari seorang perempuan untuk dijadikan pendamping hidup: karena hikmat Tuhan yang mengatakan untuk jangan mencarinya. Agar saya pun tidak ditimpa kesusahan badani. Kesusahan badani bisa berarti kecanduan seks, keinginan naluriah untuk memiliki anak yang tidak terpenuhi, lesbian bed death, terjangkit virus HIV/AIDS, serta berbagai kemungkinan lain.
Saya tidak takut jika saya menjalani kehidupan seorang diri saja, karena saya sudah tidak lagi merasa kesepian, tidak lagi terikat dalam belenggu ketakutan dan kekhawatiran akan masa depan, dan merasa merdeka seutuhnya. Saya tidak berkeberatan jika saya tetap dalam keadaan saya. Jika itu menjadi kehendak Tuhan, maka saya boleh merasa bangga dengan keadaan saya, tanpa perlu takut dicap ‘perawan tua’. Saya akan setia hingga saya pulang kepada Bapa di Sorga dalam keadaan utuh dan tidak bercela, baik jasmani maupun rohani.
Saya memilih untuk percaya bahwa jika Tuhan menghendaki saya untuk memiliki pendamping hidup, maka Tuhanlah yang akan mendatangkannya untuk saya, tanpa saya harus memintanya. Saya meneruskan hidup saya untuk mengenalNya lebih lagi, mencari kebenaran, ketetapan, perintah, dan hukum-hukumNya. Saya terus membaca Alkitab setiap hari, menjalani rutinitas harian, dan mengalir dalam hidup yang penuh cinta dari dan kepada Tuhan. Prinsip yang saya pegang adalah melakukan segala sesuatunya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, seperti ada tertulis dalam Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Dan ternyata, setelah saya berserah diri kepada Tuhan, pada akhir Tahun 2008 lalu, Tuhan mendatangkan seorang perempuan dalam hidup saya, melalui serangkaian cara yang indah. Sejak awal mula Tuhan mendatangkan perempuan ini, saya telah menyerahkannya kepada Tuhan, melalui doa, bahkan saya tulis dalam blog Intimacy, blog yang menjadi ‘ruang doa’ saya yang tertulis. Saya melakukan apa yang Tuhan perintahkan, yakni untuk menguji segala sesuatu. Selama berinteraksi dengan perempuan ini, Tuhan memampukan saya untuk menguji kualitas hatinya. Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa perempuan ini adalah seorang perempuan yang hidup oleh iman. Ia cinta kepada Tuhan. Ia takut akan Tuhan.
Seraya waktu terus berjalan, saya percaya bahwa Tuhanlah yang menumbuhkan cinta diantara saya dan perempuan ini, sebab sejak awal mula Tuhan mendatangkan perempuan ini dalam hidup saya, saya telah melibatkan Tuhan dalam hubungan ini. Demikian juga perempuan ini. Dia membawa hubungannya dengan saya kepada Tuhan: menyerahkannya kepada Tuhan melalui doa.
Hari demi hari kami lewati bersama Tuhan. Hari demi hari Tuhan menguatkan cinta kami kepadaNya. Banyak doa-doa kami yang dijawabNya. Banyak pula doa-doa kami yang tidak atau mungkin belum dijawabNya. Banyak kejadian dan peristiwa yang membuktikan bahwa Tuhan berkenan atas kami. Teramat banyak, sehingga kami tak dapat menyebutkannya satu per satu. Dengan demikian, kami semakin yakin bahwa Tuhan berkenan atas kami, sekalipun kami adalah pasangan lesbian. Tuhan penuh kasih setia dan kemurahan. Tak hanya kata-kata, tapi juga tindakan nyata. Tuhan bukanlah sebatas kata-kata tertulis dalam Alkitab. Tuhan adalah kenyataan.
Selang berbulan-bulan berlalu, perempuan yang saya sebut di awal mula tulisan ini menyapa saya melalui Yahoo! Messenger. Obrolan berlanjut sampai saat saya bercerita kepadanya bahwa Tuhan telah mendatangkan seorang perempuan untuk saya. Namun dia memberi masukan kepada saya, tulisnya, “Tuhan tidak mendatangkan perempuan untuk perempuan.” “Jangan kaitkan Tuhan untuk pilihanmu, nanti Tuhan murka.” Saya kerap menanggapi perempuan itu dengan kutipan ayat-ayat Alkitab. Mungkin karena kesal, dia berkata, “Alkitab bukan untuk berbalas pantun.”
Singkat cerita, saya disebut sebagai orang yang memakai ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan perilaku lesbian. Saya disebut sebagai orang yang menelaah Alkitab dengan pengertian diri sendiri yang membuat Alkitab menjadi pusat untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri; untuk memuaskan keinginan sendiri; untuk membenarkan perilaku lesbian saya.
Saya disebut sebagai orang yang pandai dalam hal membaca Alkitab, namun untuk pembenaran supaya hubungan sesama jenis dibenarkan. Saya disebut sebagai orang yang mengkotak-kotakkan hati, sama seperti banyak gay, lesbian, bahkan banci yang kerap berkata, “Tuhan… . Tuhan… .” tetapi tidak menerima apa yang Tuhan firmankan.
“Kalau kamu takut (akan Tuhan) kenapa kamu lakukan apa yang Tuhan tidak mau kamu lakukan? Kadang-kadang kakak suka heran sama prinsipmu. Kamu sebut Tuhan, tapi lakumu berseberangan,” katanya.
Saya tak hendak berpanjang-panjang lagi menjelaskan segala sesuatunya, karena toh benar apa yang Tuhan katakan dalam Amsal 16:2, “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati.” Sekali lagi disebutkan dalam Amsal 21:2, “Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati.”
Amsal 16:4, “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Saya adalah seorang lesbian. Jika dengan demikian saya adalah orang fasik itu, maka saya dibuatNya untuk hari malapetaka. Adalah hak Tuhan bila saya adalah kegenapan firman Tuhan itu.
Roma 1:24, “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.” Saya adalah seorang lesbian. Jika dengan demikian saya adalah salah satu dari mereka, maka Allah-lah yang menyerahkan saya kepada kecemaran sehingga saya mencemarkan tubuh saya dengan sesama perempuan. Adalah hak Tuhan bila saya adalah kegenapan firman Tuhan itu.
Wahyu 3:5, “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.”
Wahyu 20:15, “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.”
Saya adalah seorang lesbian. Jika karena saya mencintai sesama jenis membuat Tuhan murka kepada saya, maka Tuhan berhak menghapus nama saya dari kitab kehidupan dan melemparkan saya ke dalam lautan api itu. Tetapi sekali-kali saya tidak pernah meminta.
Kini, akankah engkau menilaiku lagi sebagai orang yang menafsirkan ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan perilaku lesbian? Akankah engkau menyebutku sebagai orang yang menelaah Alkitab dengan pengertian diri sendiri yang membuat Alkitab menjadi pusat untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri?
Saya tidak perlu mencari pembenaran atau usaha untuk membenarkan perilaku lesbian saya karena tanpa saya memintanya, Kristus telah membenarkan saya oleh karena kasih karunia, bukan hasil usaha saya, seperti ada tertulis dalam Roma 3:23-28:
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.
Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.
Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”
~Elize, Kian Damai, 2009~
Posted in: on Rabu, Agustus 05, 2009 at di 17:29


Poskan Komentar