From Emptiness to Fullness

Sebelum bersungguh-sungguh di dalam Tuhan, saya adalah penyuka buku-buku spiritual dan psikologi populer. Saya gemar membeli serial motivasional-inspirasional, seri pengembangan diri dan kepribadian, serta ragam buku self-help lainnya. Di samping untuk menambah wawasan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, buku-buku tersebut terutama saya gunakan untuk merubah hidup saya agar menjadi lebih baik.

Akan tetapi dalam kenyataannya, buku-buku tersebut tidak memberi dampak yang signifikan bagi perubahan dalam hidup saya. Mereka hanya bisa memberi perasaan baik dan perubahan sesaat saja. Mereka hanya mampu menumbuhkan kekuatan kehendak untuk berubah, namun tidak untuk bertindak. Saya tetap saja seorang pemarah, penuntut, pengeluh, dan pendendam. Saya tetap saja tenggelam dalam kepahitan dan konflik diri yang berputar-putar. Saya tidak memiliki sukacita dan damai sejahtera. Semuanya terasa hampa.

Namun saya sungguh bersyukur pada Tuhan sebab kasih karuniaNya yang telah menyelamatkan saya. Dia telah merubah hidup saya melalui serangkaian peristiwa yang akhirnya membuat saya bersungguh hati mencari Dia. Melalui pembacaan Kitab Suci setiap hari, Tuhan menyadarkan saya bahwa di luar Kristus, saya tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti yang tertulis dalam Yohanes 15:5, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Melalui ayat itulah, saya disadarkan mengapa buku-buku spiritual dan psikologi populer itu tidak dapat merubah hidup saya secara radikal. Yakni karena saya tak dapat berbuat apa-apa di luar Kristus. Saya, Anda, dan kita semua dapat berubah ketika kita tinggal di dalam Kristus dan Kristus tinggal di dalam kita. Kebenaran ini menunjukkan betapa hanya Tuhanlah yang berkuasa mengubah hidup kita, bukan ajaran dunia dan hikmat manusia.

Kini, saya tak lagi menggemari ragam buku spiritual dan psikologi populer, apalagi bacaan-bacaan duniawi. Saya tidak lagi takut bila saya dicap bodoh karena “tidak nyambung” bila diajak bicara mengenai buku maupun novel best-seller. Saya tidak takut bila intelegensi saya menurun dan spektrum berpikir saya menjadi dangkal hanya karena tidak membaca buku. Saya cukup dengan Kitab Suci. Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibrani 4:12)

Karena takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan (Amsal 1:7a). Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan (Pengkhotbah 12:12). Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus (Kolose 2:8). Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang (Pengkhotbah 12:13). Kiranya Tuhan melalukan mataku dari pada melihat hal yang hampa, menghidupkan aku dengan jalan-jalan yang Dia tunjukkan! (Mazmur 119:37).




~Elize, Kian Damai, 2009~

2 komentar:

  1. Bener banget Liz, buku-buku self motivation itu bagus buat pengembangan diri, tp bukan untuk memenuhi ruang kosong dalam hati kita.

    Apalagi buku2 novel picisan, yang bikin perasaan tambah ga enak waktu baca. Hahahhaha...


    Grey
    *lagi malas log-in

     
  2. Hahaha.. walau lg malas log-in, tetap dikenali kok. Grey kan cuma ada satu: Grey Sebastian alias Chef Grey ^^;

    Iya Grey, ruang kosong itu memang punya VVMIP: Very Very Most Important Person.

     

Poskan Komentar