2gether in Christ

Hari ini genap dua tahun saya menjalin hubungan dengan partner saya, Vie. Hubungan yang dimulai dari dunia maya untuk kemudian berlanjut dalam dunia nyata. Hubungan yang dimulai dari long distance relationship (LDR) selama empat bulan; tinggal bersama dalam satu kota selama satu tahun satu bulan; hingga akhirnya bisa tinggal bersama dalam satu atap selama tujuh bulan.

Selama dua tahun ini, tidak banyak yang mengetahui hubungan saya dengan Vie yang sebenarnya. Meski demikian, kecurigaan bahwa kami adalah pasangan lesbian telah banyak diungkapkan oleh keluarga dan beberapa teman saya. Di hadapan keluarga, tentu saja saya menyangkalnya sebab saya tidak ingin mendukakan hati mereka. Di hadapan beberapa teman, ada yang saya sangkal, ada pula yang saya akui. Tentu itu semua berdasarkan pertimbangan pikiran dan hati nurani.

Jika dipikir-pikir, sebenarnya wajar jika kecurigaan itu timbul karena secara fisik, Vie ini wajahnya lebih menyerupai laki-laki hingga kerap dipanggil “Mas” terutama jika orang hanya melihat sepintas. Vie bukan butchie. Penampilannya sederhana dan biasa saja. Lekuk tubuhnya masih terlihat jelas bahwa dia wanita. Nah, semenjak Vie pindah ke Jogja, kami banyak melakukan aktivitas harian bersama-sama. Jadilah orang curiga bahwa kami pecinta sesama betina. Dia sang “pria” dan saya sang wanitanya. Aha?! Itu kata dunia!!

Lalu bagaimana dengan sikap dan perasaan saya? Ah, biasa aja. Hahaha… .

Sebagai lesbian in the closet, saya memang sangat merahasiakan hubungan saya dengan Vie. Di hadapan manusia, saya masih bisa menutup-nutupinya dengan kepandaian saya bertopeng muka. Biarlah orang menilai saya munafik dan penuh kepura-puraan di hadapan manusia, bahkan berdosa karena berdusta pada orangtua. Bila hal ini adalah dosa, maka saya percaya bahwa ini adalah “dosa yang tidak mendatangkan maut” (I Yohanes 5:17). Saya berdusta pada keluarga karena saya tidak ingin mendukakan hati mereka. Sebaliknya, ini adalah bentuk kasih saya pada mereka sebagaimana kasih “menutupi segala sesuatu” (I Korintus 13:7).

Satu hal yang saya percaya adalah bahwa Tuhan telah membenarkan saya. Tuhan ada di pihak saya. Nyatanya, hidup saya sungguh sangat jauh berbeda sejak Dia mendamaikan saya dengan kecenderungan lesbian yang ada dalam diri saya. Dia mendatangkan perempuan istimewa dalam hidup saya. Dia melindungi hubungan saya dengan Vie selama dua tahun ini. Dia menyatakan banyak perbuatan ajaibNya atas kami. Segala pahit manis kehidupan saya dengan Vie membuat saya lebih mendekat pada Tuhan dan bukan menjauh. Hati tidak bisa berdusta. Saya bisa merasa bahwa Tuhan mengasihi saya.

Saya percaya bahwa Vie adalah perempuan terindah dari Allah untuk saya. Vie adalah perempuan yang penuh kasih dan kesetiaan. Sekalipun saya pemarah, dia tetap mengasihi saya. Sekalipun saya kerap mengucapkan kata-kata kasar, bahkan kekerasan fisik bila sedang marah kepadanya, dia tidak pernah membalasnya. Sekalipun saya kerap uring-uringan dan menjadikan Vie sebagai objek pelampiasan kemarahan, dia tidak undur dari saya. Sekalipun saya yang salah dan seharusnya saya yang meminta maaf, dia justru yang meminta maaf. Dia tidak pernah memukul ataupun menampar saya. Sebaliknya, sayalah yang kerap memukul dan menamparnya bila terjadi perselisihan dan pertengkaran.

Ketika saya diam, justru itulah yang paling menyiksa Vie. Diam saya membuatnya menyakiti dirinya sendiri. Mulai dari membentur-benturkan kepalanya ke tembok, mengguyur kepalanya dengan air dingin hingga seluruh badannya basah kuyup (padahal kalau mandi dan keramas musti pakai air panas ^^“), untuk kemudian berbaring di lantai sampai terbatuk-batuk karena kedinginan. Dalam tingkatan yang lebih serius, Vie akan mengambil benda tajam, entah pisau, cutter, atau apapun itu, dan beraksi hendak memotong urat nadi atau menusuk perutnya. Alih-alih panik ketakutan dan memohon-mohon agar jangan bunuh diri, saya justru tetap diam saja atau malah mempersilahkannya untuk bunuh diri. Biasanya, Vie sendiri yang mengurungkan niatnya. Bila pertengkaran usai, saya kerap bertanya pada Vie, “Kenapa tadi gak jadi bunuh diri?“ Sambil nyengir, dia menjawab,“Heheh..gak brani. Takut dosa.“

Ehm..pembaca.. Sesungguhnya saya ya tidak sesadis itu kok. Ketika saya diam atau malah mempersilahkan Vie bunuh diri, hati saya berdoa pada Tuhan. Saya meminta ampun kepadaNya oleh karena kekerasan hati saya. Saya meminta ampun kepadaNya karena saya menyiksa perempuan yang Dia taruhkan di sisi saya. Jikalau Dia hendak mengambil Vie dari hidup saya, dan membinasakan saya, melemparkan saya dalam kegelapan, bahkan menghapuskan saya dari Kitab Kehidupan, maka terjadilah kehendakNya karena itulah yang pantas saya dapatkan. Adakah saya lebih berkuasa daripada Tuhan? Tidak. Akhirnya, saya hanya bisa menyerahkan Vie kedalam tanganNya. “Terjadilah kehendak-Mu,” kata hatiku. Thanks God, Vie masih hidup sampai sekarang. Thanks God, Tuhan meluputkan saya dari penyesalan seumur hidup.

Dua tahun menjalin hubungan dengan Vie telah cukup membuktikan bahwa Vie memang mencintai saya. Vie sangat mengasihi saya. Vie tidak manipulatif. Vie tidak pandai berpura-pura. Vie tidak pandai bersilat lidah. Vie tidak pandai bermanis muka. Vie selalu mengalah. Vie suka melayani. Vie sabar dan tidak pemarah. Vie tidak semena-mena. Vie suka masakan saya. Vie tidak suka mencela dan mengkritik saya. Vie apa adanya. Vie tidak suka tebar pesona. Vie bangga jalan sama saya. Vie mengaku bahagia hidup dengan saya. Vie menomorsatukan Tuhan dalam hidupnya.

Apakah ini semua tanda bahwa Vie itu hebat dan sempurna? Tidak. Saya percaya bahwa Tuhanlah yang memampukan Vie untuk itu. Tuhan menunjukkan kasihNya pada saya melalui Vie.

Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah kasih, melalui Vie yang sangat mengasihi saya sekalipun saya kerap menyakiti dia.

Tuhan menunjukkan bahwa Dia penuh kesabaran dan pengampunan, melalui Vie yang tidak membalas kejahatan saya dan mau memaafkan segala kesalahan saya.

Tuhan menunjukkan pada saya bahwa Dia tetap mengasihi saya sekalipun saya penuh cacat dan cela, melalui Vie yang menerima saya apa adanya dan tidak memaksa saya untuk merubah apapun dalam diri saya.

Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah setia, melalui Vie yang tidak undur dari saya sekalipun saya beberapa kali hampir menyerah karena berbagai tekanan.

Tuhan menunjukkan bahwa Dia tidak membenci saya, melalui Vie yang tidak turut membenci saya di saat-saat saya membenci diri saya sendiri.

Jikalau ada manusia sebaik Vie ini, bukankah Penciptanya teramat jauh lebih baik?

Dua tahun memang masa yang singkat. Belum ada apa-apanya. Hubungan ini masih terus harus diuji. Tidak ada dasar untuk bermegah diri. Tuhan mungkin saja mengambil cinta dalam hati Vie sehingga Vie tidak lagi mencintai saya. Tuhan mungkin saja membalikkan semua keadaan ini menjadi kengerian. Tuhan bisa saja merubah semuanya sekehendak hatiNya. Satu hal yang saya percaya, saya bisa memegang janjiNya, bahwa “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.“ (Roma 8:1-2) Saya percaya kepada Yesus, saya tidak menolak kasih karunia Allah, maka saya boleh percaya bahwa saya tidak akan berada dalam penghukuman.


Dear lesbians, perbuatan-perbuatanNya atasmu tiada terhitung dan tiada terukur. Segala pahit dan manis yang telah terjadi dalam hidupmu adalah bukti nyata bahwa Tuhan mengasihimu. Mungkin saat ini engkau tidak menyadarinya. Namun percayalah,“Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya.“ (Pengkhotbah 7:8a)

Hanya takutlah akan TUHAN dan setialah beribadah kepada-Nya
dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah,
betapa besarnya hal-hal yang dilakukan-Nya di antara kamu.
I Samuel 12:24


~Elize, Kian Damai, 2010~

Ps. Dear my lovely faithful Vie, I love you, since Christ in you. 
Thank you for our 2getherness in Christ.

0 komentar:

Poskan Komentar