Livin' in d'Closet

Seorang sahabat baru telah menginspirasi saya untuk menuliskan pengalaman saya sebagai “In the closet lesbian”. Pertanyaan serupa datang dari seorang sahabat lain. Jadilah saya kembali bersemangat untuk bercerita panjang lebar melalui blog ini. Terimakasih kepada sahabat-sahabat tercinta yang telah berpanjang sabar dan berpengertian kepada saya.

Pengalaman saya sebagai in the closet lesbian dimulai sejak usia saya 25 tahun, yakni sekitar tiga tahun yang lalu, setelah saya bisa menerima keadaan diri saya seutuhnya dan setelah saya melewati berbagai tahap pencerahan, pengalaman spiritual, dan “perjumpaan pribadi” dengan Tuhan Yesus dalam serangkaian peristiwa-peristiwa kecil yang mampu mengubah hidup saya secara perlahan tapi pasti.

Sebelum itu, di dunia nyata, saya tidak mempunyai teman lesbian. Saya pun tidak pernah bertemu dengan satu orang lesbian pun. Saya juga tidak berani untuk mendatangi komunitas-komunitas lesbian yang ternyata banyak bertebaran di kota Jogja ini. Jadi, perkenalan pertama saya pada dunia lesbian adalah melalui dunia maya. Ya, melalui internet.

Saat itu saya sedang mencari artikel tentang film lesbian melalui google. Dan di deretan hasil pencarian yang kesekian, terlihat suatu ulasan berbahasa Indonesia dalam Blog Rahasia Bulan. Masuklah saya ke blog itu, menjelajahinya, dan saya terkaget-kaget, terkagum-kagum, dan terpesona melihat isi blog itu. Sungguh blog yang intelek, cerdas, dan berkelas. Setelah sebulan menjelajahi blog itu dan blog-blog, serta weblog lain, saya pun memberanikan diri untuk berkenalan dengan si penulis blog, Alex. Saya mengirim email kepadanya dan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Hati saya berdebar-debar tak karuan ketika mengetikkan email pertama itu. Entah berapa jam yang saya habiskan hanya untuk mengetik email itu. Ketika meng-klik “Send Email“ saja saya sambil memejamkan mata.

Setelah email terkirim, entah berapa kali saya bolak-balik mengecek email melalui ponsel saya. Berharap-harap cemas menunggu balasan dari seorang lesbian intelek, cerdas, dan berkelas seperti Alex. Sampai akhirnya, muncul balasan email darinya. Senang sekali rasanya mendapat respon dari sesosok maya di luar sana. Email pun berlanjut sampai beberapa sesi yang berisi tanya jawab dan sharing tentang beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam diri saya.

Itulah titik awal mula pencerahan dalam hidup saya. Kala itu saya yang masih berkubang dalam konflik diri berputar-putar, mulai mendapat setitik pencerahan dari seorang lesbian -yang sampai sekarang sosok nyatanya belum pernah saya lihat- untuk kemudian mengalami pencerahan demi pencerahan selanjutnya melalui pembacaan Alkitab setiap hari, hingga akhirnya saya dapat menerima keadaan diri saya seutuhnya dan berdamai dengan Tuhan Yesus yang telah memerdekakan saya dari perasaan bersalah bahwa menjadi lesbian adalah dosa.

Saya pun mulai menulis blog. Kian Damai, itu nama blog saya. Semula blog ini adalah sarana bagi saya untuk mengekspresikan diri saya. Mengingat saya tidak mempunyai teman yang bisa saya percayai untuk berbagi cerita tentang diri saya yang sesungguhnya, maka saya ingin berbagi cerita, berekspresi, menampilkan diri saya yang sesungguhnya melalui dunia maya, melalui blog.

Dengan menulis blog, saya merasa bisa bebas mengekspresikan diri saya yang sesungguhnya, tanpa perlu takut dihakimi, ditolak, dan dinilai ini itu oleh siapapun. Saya bisa menampilkan diri saya yang sesungguhnya, tanpa identitas pribadi saya yang sebenarnya diketahui. Melalui blog, saya boleh yakin bahwa ada orang lain di luar sana yang ‘mendengarkan’ saya tanpa saya perlu takut ditolak ataupun dihakimi.

Well, setelah beberapa kali memposting tulisan, blog ini saya hapus karena saya tidak merasa damai sejahtera dengan blog ini. Saya terlalu banyak menceritakan tentang diri saya. Saya ingin dikagumi. Saya ingin mempunyai banyak fans. Saya ingin blog saya memiliki rating yang tinggi. Saya ingin blog saya ramai dikunjungi. Dan lain-lain yang intinya saya menginginkan popularitas diri. Akibatnya, saya malah menjadi gelisah dan malu dengan blog ini. Saya gusar ketika stat counter menunjukkan angka yang sedikit, pertanda bahwa hanya sedikit orang yang berkunjung ke blog saya. Saya malu ketika saya tidak segera meng-update blog. Saya malu ketika hanya ada sedikit komen yang masuk. Yah, akhirnya saya hapus saja blog ini.

Namun ternyata, itu bukan akhir dari Blog Kian Damai. Seiring dengan pencerahan demi pencerahan selanjutnya, blog ini saya buat kembali. Namun kali ini, blog ini saya tujukan sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan. Jadilah blog ini lebih banyak berisi tentang Tuhan, pengalaman pribadi, dan kesaksian-kesaksian saya seputar lesbian dan kekristenan. Saya juga tidak memasang stat counter di blog ini agar saya tidak perlu stress bila angka menunjukkan frekuensi kunjungan yang rendah. Saya juga tidak perlu gelisah bila blog ini sepi pengunjung dan sepi komentar.

Satu hal saja yang saya harapkan dan percayai adalah bahwa ternyata ada satu orang saja di luar sana, yang memiliki kesamaan dengan saya terdahulu -yang berkubang dalam konflik diri berputar-putar, seputar lesbian, Tuhan, dan dosa- menemukan blog ini dan mengalami serangkaian “perjumpaan pribadi“ dengan Tuhan Yesus. Jika memang demikian, maka saya boleh berbahagia karena Tuhan berkenan memakai saya sebagai salah satu perpanjangan tanganNya untuk menolong perempuan yang terus-menerus merasa bersalah dan berdosa dengan kelesbianannya.

Rupanya Tuhan memakai blog ini untuk mempertemukan saya dengan seorang perempuan yang pada akhirnya menjadi partner saya, Vie. Seorang perempuan yang usianya 13 tahun lebih tua dari saya, perempuan tampan yang mata dan alisnya persis seperti perempuan yang ada dalam fantasi saya, perempuan yang setia dan panjang sabar, perempuan yang cengeng dan kadang menjengkelkan. Hahahah..sepertinya saya kerap menulis tentang hal yang satu ini: Vie tuh cengeng ^^.

Vie inilah satu-satunya lesbian yang saya kenal dari dunia maya untuk kemudian bertemu dan bersatu di dunia nyata. Semula kami menjalin hubungan jarak jauh, kemudian tinggal dalam satu kota, dan akhirnya kami bisa tinggal dalam satu atap, tidur dalam satu ranjang, tapi tidak makan sepiring berdua. Kami sama-sama in the closet lesbian. Kami menjaga perilaku kami dengan tidak menampilkan kemesraan di depan umum. Kami tidak suka bertandang ke rumah tetangga. Sebaliknya, tetangga yang kerap bertandang ke rumah kami. Kami terbuka tentang identitas dan latar belakang keluarga kami masing-masing, tetapi tidak tentang hubungan kami yang sesungguhnya. Kami menjaga tata cara berpakaian dan bahasa tubuh kami. Vie tidak kelaki-lakian dan tidak lagi berjalan ala preman.

Tentang teman lesbian, saya memang mempunyai beberapa teman lesbian di dunia maya. Namun, sampai detik ini, belum ada seorang pun yang pernah saya temui. Kisah nyata mengerikan akibat pertemuan dengan sesama lesbian telah cukup membuat saya mampu menahan keinginan untuk bertemu dengan sesama lesbian. Jikalau kelak Tuhan mengijinkan, tentu Dia mempertemukan saya dengan lesbian-lesbian berhati tulus itu.

Demikianlah mengapa saya sering menyebut diri sebagai lesbian in the closet atau in the closet lesbian: karena saya tidak coming out pada banyak orang di dunia nyata; karena saya tidak membuka identitas pribadi selengkapnya di dunia maya; karena saya tidak ingin keberadaan saya sebagai lesbian diketahui oleh banyak orang; karena saya ingin melindungi keluarga saya dari cemooh dan cibiran orang; karena saya ingin merasa aman; dan karena saya merasa lebih nyaman sebagai in the closet lesbian.

Di dunia nyata, saya adalah orang yang sangat tertutup. Saya tidak pernah terbuka dengan orang-orang di sekitar saya tentang diri saya yang sesungguhnya. Ehm..ralat: hanya pada satu orang saja saya pernah mengaku setelah “dipancing“ berkali-kali, bahwa saya dan Vie adalah pasangan lesbian, untuk akhirnya dia sebarkan pada banyak orang di sekitarnya, baik secara sadar maupun tak sadar. Slip of the tongue. Well, rupanya closet saya udah bocor alus..hahahaha...Tidak jadi soal karena saya percaya nasib saya ada di tangan Tuhan. Kalau pada akhirnya keamanan dan kenyamanan sebagai in the closet lesbian ini berubah menjadi kengerian, itu semua karena kehendak Tuhan yang berkuasa atas hidup saya. Sejauh ini, Tuhan melindungi saya dan partner saya serta keluarga besar kami. Kiranya kasih karunia, kasih setia, dan kemurahan Tuhan senantiasa menaungi kami, perempuan pecinta perempuan yang percaya telah beroleh keselamatan, juga kepada kamu sekalian, perempuan lesbian yang telah diselamatkan oleh iman.

6 komentar:

  1. woww..akhirnya oma menoelis blog lagi. selaloe soeka dengan toelisan oma semenjak pertama kenal blog ini dan sekarang akoe boleh berbangga hati karena berhasil menjadi tjoetjoenda seorang oma elize :) GBU, salam buat opa vie yaw (*^^*)

     
  2. Kangen chat n sharing2 sama kamu Elize.

    Saat ini rasanya aku jg lebih nyaman u/ in the closet.

     
  3. @Aleph: Aloha tjoetjoenda Aleph tertjinta.. Soerprise karena tahoe roepanja tjoetjoenda masih menjempatkan diri oentoek bertandang ke blog ini. Makasih ya tjoe..Oma seneng banget.. . Oma joega bangga poenja tjoetjoe jang menjenangkan, setia, dan baik hati seperti Aleph. Baik-baik di sana ya tjoe.. . Salam balik dari Opa Phie.

    @Grey Sebastian: Hi Grey..wah sudah lama sekali ya gak bersua di YM. Sejak tinggal di dusun, koneksinya memang cenat-cenut. Makanya komen-komen ini baru bisa dimoderasi pas aku dah di kota nih. Hadooohh...enak sekali ya di kota...internetnya lancaaarrrr... . Hmm, tentang in the closet..yeah..itu comfort zone yang bener2 nyaman.. .

     
  4. ga perlu bertemu di dunia nyata, bertemu secara maya seperti ini dengan seorang seperti Elize, justru membuat hati semakin damaiiiiiiiiiiiii... :))

     
  5. @Inyoyita: Aduuuh Inyooooo, maaph komennya baru kumoderasi sekarang. Maklum..blog ini jarang yang komen. Jadinya jarang di-cek juga.

    Makasih Inyo, udah mau komen di sini. Walau ga bertemu di dunia nyata, tapi sosok Inyo berasa nyata dalam rupa maya. Itu dah lebih dari cukup. Dan memang lebih damai karena aku takkan tergoda oleh kolor ijo-nya Inyo yang aduhai memesona para feyeummm. Hihihi... Makasi Inyo.. .

     
  6. hi Elize,

    nice to know this blog and langsung baca kisah in the closet lesbian ini...dan ditambah lagi dgn happy ending permulaan dmn km bisa menemukan Vie :)
    nice story dan semangat...

    memang susah2 gampang menemukan tmn2 lesbian didlm dunia maya yg tulus hati yah...wong kadang2 kita tulus jg, susah menemukan tmn lesbian yg baik hati dan pengertian...

    anyway...tetap semangat yah dan GBU.

     

Poskan Komentar